Boikot Terhadap Israel Tidak Akan Membuat Anda Kehilangan Teknologi - Itu Cuma Kebohongan Besar
ORBITINDONESIA.COM - Kita semua sudah sering mendengarnya dari juru bicara Israel, mengulanginya seperti kaset rusak: "Boikot terhadap Israel akan membuat Anda kehilangan teknologi," disampaikan dengan keyakinan menyedihkan yang sama seperti seorang raja telanjang yang bersumpah mahkotanya terbuat dari platinum.
Klaim itu adalah kebohongan besar, dan angka-angka menghancurkan omong kosong itu tanpa ampun.
Menurut Bank Dunia (2024), ekspor barang berteknologi tinggi Israel (produk manufaktur yang intensif dalam R&D: komputer, kedirgantaraan, farmasi, instrumen ilmiah, mesin listrik) hampir tidak mencapai $19,86 miliar pada tahun 2024.
Bandingkan dengan perdagangan barang global, yang berkisar sekitar $25 triliun (UNCTAD, 2025). Itu hanya 0,079% dari total barang dagangan global. Nol koma nol tujuh sembilan persen.
China dapat menggantinya dalam beberapa minggu tanpa berkedip. AS, Korea Selatan, Taiwan, atau Jerman dapat menyerapnya dengan mudah.
Bahkan jika menambahkan layanan teknologi tinggi (perangkat lunak, keamanan siber, dll.), yang meningkatkan total menjadi $78 miliar menurut Otoritas Inovasi Israel (2025), kontribusi Israel hanya mewakili 0,236% dari perdagangan barang dan jasa global, yang mencapai rekor $33 triliun pada tahun 2024 (UNCTAD, 2025; WTO, 2024).
Teknologi global—telepon, PC, internet, komputasi awan, chip, aplikasi, perangkat lunak perusahaan—akan beroperasi persis sama tanpa satu byte pun dari Israel. Tidak ada yang runtuh. Tidak ada krisis digital, tidak ada gangguan rantai pasokan. Ini adalah mitos yang dibesar-besarkan secara tidak masuk akal.
Dan ceruk "bintang" di mana Israel paling unggul, seperti keamanan siber? Tentu, ada perusahaan-perusahaan yang banyak bicara (Check Point, NSO, Palo Alto mengakuisisi perusahaan Israel, dll.), tetapi pangsa global mereka sangat kecil: Israel mewakili sekitar 0,7% dari pasar keamanan siber global pada tahun 2025 (perkiraan pasar), dan meskipun pendanaan siber Israel tinggi relatif terhadap ekosistem lokal, hal itu tidak memengaruhi pasar global.
Alat-alat tersebut digantikan dengan cepat: pesaing AS (CrowdStrike, Palo Alto), India, Eropa Timur, atau Tiongkok mengisi kekosongan dalam hitungan bulan, bukan tahun.
Banyak "inovasi Israel" bahkan tidak 100% lokal: mereka menerima pendanaan besar dari Silicon Valley, talenta impor, atau kemitraan dengan raksasa AS/Eropa. Hilangkan ekosistem eksternal, dan "keajaiban" itu akan runtuh.
Mengapa dongeng ini terus berlanjut?
Propaganda internal klasik. Sejak 1948, Israel telah membangun narasi "kami sangat diperlukan bagi dunia," yang ditanamkan ke dalam sekolah, media, pidato, dan jejaring sosial untuk membenarkan peran strategisnya kepada penduduk dan sekutunya.
Ceruk pasar yang sangat terlihat dan mencolok (siber ofensif, pengawasan, AI militer-sipil) digunakan untuk memperbesar ilusi relevansi global. Tetapi itu hanyalah ceruk pasar, bukan tulang punggung global. Aksesori yang langsung digantikan oleh pasar global.
Realitas pahit: Israel adalah aktor sekunder di papan teknologi global. Ketidakhadirannya tidak menghentikan satu pun server, pembaruan, atau transaksi cloud. Dunia terus bergerak maju—mungkin dengan lebih sedikit asap propaganda.
Sang raja telanjang. Boikot teknologi yang sebenarnya akan membuktikan bahwa "mahkotanya" hanyalah kardus.
(Sumber: Palestinian Historiographical Research) ***