Menghidupkan Semangat Literasi di Kairo: Cairo International Book Fair
Oleh Sastri Bakry*
ORBITINDONESIA.COM - Saya merasa tersanjung ketika disambut Pak Havis, protokol KBRI, tepat di ujung belalai pesawat. Jalur cepat pun saya peroleh, tanpa perlu antre lama. Tak lama berjalan, panitia dengan papan bertuliskan nama saya sudah menunggu dengan senyum ramah.
“Selamat datang, Ibu.” Luar biasa, dua orang Mesir dari instansi berbeda menjemput saya, keduanya fasih berbahasa Indonesia. Setelah itu, Pak Havis menyerahkan saya kepada tim panitia, dan kami langsung menuju hotel.
Hari pertama di Kairo saya gunakan untuk beristirahat panjang di hotel yang unik, nyaman, dan indah. Perjalanan belasan jam dengan transit di Istanbul, Turki, cukup menguras tenaga. Maklum, usia sudah tidak muda lagi.
Keesokan harinya, pukul 10 pagi, panitia menjemput saya. Saya langsung menuju paviliun Indonesia untuk menyerahkan buku karya Denny JA, pemenang Sastra Inovasi BRICS.
Saya ingin masyarakat Mesir, khususnya komunitas Indonesia di sana, mengenal karya pemenang sastra pertama BRICS tersebut. Dengan penuh suka cita, pejabat Kementerian Agama yang bertugas menerima buku itu dan segera memajangnya di rak strategis.
Setelah itu, saya mulai menjelajahi Cairo International Book Fair (CIBF) ditemani tenaga ahli Kementerian Agama RI. MasyaAllah, luasnya sungguh luar biasa: lebih dari 80.000 meter persegi, berlokasi di Egypt International Exhibitions Center, New Cairo.
Pameran ini merupakan salah satu yang terbesar dan tertua di Timur Tengah, menarik lebih dari dua juta pengunjung setiap tahun. Rasanya, untuk mengitari enam hall yang tersedia, seminggu pun tidak cukup jika ingin benar-benar menikmatinya. Untungnya, saya hanya berkeliling sekilas.
Pameran ini rutin diadakan setiap tahun pada minggu terakhir Januari dan berlangsung selama 12 hari. Tahun ini, pameran ke-57 berlangsung dari 21 Januari hingga 5 Februari 2026. Pada hari keenam, staf Kemenag yang menjaga stan Indonesia menyampaikan bahwa jumlah pengunjung sudah mencapai satu juta. Artinya, tahun ini bisa lebih ramai dibanding tahun sebelumnya.
Hal yang membuat saya takjub adalah antusiasme pengunjung. Hampir tidak ada yang keluar dari pameran dengan tangan kosong. Mereka datang dengan niat membeli buku, bahkan ada yang membawa koper khusus untuk menampung belanjaan.
Pikiran saya langsung melayang ke Indonesia. Berulang kali saya menghadiri pameran buku, baik nasional maupun internasional, kebanyakan pengunjung hanya melihat-lihat. Mungkin itu sebabnya banyak pameran buku di tanah air tidak bertahan lama.
Berbeda dengan Kairo. Setiap tahun, kota ini menjadi saksi perayaan literasi terbesar di dunia Arab. CIBF adalah acara yang tidak boleh dilewatkan oleh pecinta buku. Pameran internasional ini menampilkan beragam jenis buku—fiksi, nonfiksi, buku anak-anak, hingga karya akademis—dan dihadiri penulis, penerbit, penjual, serta pembaca dari seluruh dunia.
Lebih dari sekadar pameran, CIBF adalah platform bagi penulis dan penerbit untuk mempromosikan karya mereka. Pameran ini bahkan disebut sebagai yang terbesar kedua di dunia setelah Frankfurt Book Fair. Sebuah kesempatan emas bagi pecinta buku untuk menemukan karya baru sekaligus berinteraksi dengan para penulis dan penerbit.
Tujuan utama acara ini, yakni mempromosikan budaya membaca dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan serta menulis, terasa sangat tercapai. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati beragam kultur Timur Tengah. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya bagi pecinta buku, tetapi juga masyarakat luas.
Harga tiket masuk pun sangat terjangkau. Anca, Ketua KMM (organisasi mahasiswa Minang di Mesir), bercerita bahwa ia hanya membayar 5 pound Mesir—kurang dari dua ribu rupiah. Jelas, target utama bukanlah uang, melainkan jumlah pengunjung yang banyak agar semakin banyak masyarakat terlibat.
CIBF juga menyediakan berbagai fasilitas: restoran, kafe, hingga area bermain anak-anak, sehingga bisa dinikmati semua kalangan. Saya sendiri sempat menikmati makan siang bersama Mawardi, Menteri Koordinator Bidang Pendidikan PPMI Mesir. Ia sosok muda yang cerdas, berpengetahuan luas, dan fasih berbahasa Arab. Saya sampai merasa minder berdialog dengannya.
Melihat sekeliling, saya menyadari bahwa acara ini bukan hanya pameran buku dan ilmu, melainkan juga ajang keluarga yang menyenangkan.
Di era digital ini, Cairo International Book Fair menjadi pengingat bahwa buku tetap memiliki tempat istimewa di hati manusia. Sebuah kesempatan untuk menghidupkan semangat literasi, sekaligus mempromosikan budaya membaca dan menulis dari berbagai negara, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Sastri Bakry, Sastrawan Indonesia, Penulis, Ketua SatuPena Sumbar, Koordinator Nasional Jaringan Sastra BRICS Indonesia (Indonesia BRICS Literature Network National Coordinator), dan Ketua IMLF.