Peran Budaya Organisasi dalam Membangun Ketahanan Terhadap Ancaman Siber
ORBITINDONESIA.COM – Apakah benar Peter Drucker pernah berkata, 'budaya mengalahkan strategi untuk sarapan'? Pernyataan ini menyoroti betapa besar dampak budaya organisasi terhadap ketahanan internal, termasuk dalam pelaporan upaya phishing secara tepat waktu.
Studi terbaru dari Journal of Cybersecurity menunjukkan bahwa pelaporan phishing hanya dilakukan oleh sekitar 20% karyawan. Ini menunjukkan perlunya peningkatan mekanisme pelaporan untuk melindungi organisasi dari ancaman siber. Perbedaan budaya juga berperan, seperti di Jerman di mana sikap terhadap keamanan informasi lebih kuat.
Menurut laporan BCI tentang Kontinuitas dan Ketahanan 2025, semakin banyak organisasi yang memiliki individu khusus untuk mengelola upaya ketahanan. Peran ini membantu menghubungkan kepemimpinan strategis dengan pelaksanaan operasional. Namun, sebagian besar praktisi masih merasa kurangnya dukungan internal.
Budaya organisasi tidak hanya memengaruhi pelaporan masalah tetapi juga kinerja eksternal. Studi dari Cogent Business dan Management Journal di Indonesia menunjukkan bahwa tenaga kerja yang berkelanjutan meningkatkan inovasi. Ini membuktikan bahwa mendukung budaya kerja yang baik bermanfaat bagi kesejahteraan mental karyawan.
Budaya organisasi yang tepat dapat meningkatkan ketahanan dan inovasi. Apakah organisasi Anda siap menghadapi perubahan ini? Dengan meningkatkan komunikasi dan kolaborasi, organisasi dapat membangun kemampuan respons yang fleksibel dan efektif.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Februari 2026)