Bukan Cuma untuk Ibadah, Masjid Jogokariyan Jadi Simpul Donor Darah Darurat 24 Jam

ORBITINDONESIA.COM — Suatu malam, ketika kota Yogyakarta terlelap, telepon di sekretariat Masjid Jogokariyan berdering. Dari seberang garis, suara panik seorang keluarga memecah kesunyian: ada anggota keluarga yang mendadak membutuhkan darah segar untuk operasi darurat. Di saat seperti itu, dalam hitungan menit, jaringan kemanusiaan masjid ini bergerak. Mereka tidak hanya menyalakan lampu dan membuka pintu, tetapi juga menghubungkan tangan-tangan yang siap menolong.

Ini bukan sekadar cerita satu malam, melainkan gambaran nyata dari program "Donor Darah 24 Jam" yang dijalankan Masjid Jogokariyan. Sebuah ikhtiar sederhana namun berdampak luas, mengubah rumah ibadah itu menjadi simpul solidaritas yang tak pernah tidur.

Program ini lahir dari keyakinan bahwa masjid harus menjadi pusat kebaikan yang merespon kebutuhan nyata umat, kapan saja. Bekerja sama dengan berbagai fasilitas kesehatan seperti PMI dan rumah sakit, Masjid Jogokariyan membangun jaringan pendonor darah siap-siap dari kalangan jamaah dan masyarakat sekitar. Ketika ada permintaan darurat, tim masjid segera aktif menghubungkan calon pendonor yang sesuai dengan golongan darah dan lokasi yang dibutuhkan.

Yang menarik, mekanismenya tidak berhenti di situ. Masjid juga melakukan pendataan, edukasi tentang pentingnya donor darah, dan membangun kesadaran bahwa setiap tetes darah bisa menjadi penolong nyawa. Jamaah yang bersedia mendaftar sebagai pendonor darurat memahami bahwa panggilan bisa datang tengah malam, dini hari, atau di hari libur. Itulah mengapa layanan ini disebut 24 jam—bukan karena ada bank darah fisik di masjid, melainkan karena koneksi kemanusiaannya yang selalu aktif.

"Masjid bukan hanya untuk shalat. Masjid adalah rumah bersama untuk menyelesaikan masalah umat," begitulah prinsip yang dipegang pengurus. Donor darah darurat menjadi salah satu perwujudannya, sebuah layanan yang menyentuh langsung ranah sosial-kemanusiaan.

Pelan tapi pasti, inisiatif ini mengubah paradigma. Masjid Jogokariyan tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga sebagai simpul respons cepat bagi masalah kesehatan mendesak di masyarakat. Ia menjadi jembatan antara niat baik jamaah dan kebutuhan nyata pasien.

Di balik kesederhanaannya, program donor darah 24 jam ini adalah cerita tentang bagaimana ruang ibadah bisa menjadi ruang empati yang hidup. Tentang bagaimana kubah dan menara tidak hanya menjulang ke langit, tetapi juga akar yang menghujam kuat ke dalam realitas kemanusiaan di bumi.

Dalam gelombang kehidupan kota yang kadang tak terduga, Masjid Jogokariyan memastikan bahwa saluran untuk menolong sesama selalu terbuka. Siang, malam, atau kapan pun, ada jaringan kebaikan yang siap dihubungi—menjadi bukti bahwa masjid sejatinya adalah jantung yang terus berdenyut untuk masyarakatnya.***