Denny JA: Di Balik Angka yang Merosot - Jatuhnya Saham Indonesia dan Kisah MSCI

- Jatuhnya Saham Indonesia dan Kisah MSCI

Oleh Denny JA

Pagi itu, layar perdagangan di Jakarta memerah serentak.

Dalam hitungan menit, angka-angka yang selama ini menjadi simbol optimisme berubah menjadi tanda bahaya.

Grafik jatuh tajam, alarm berbunyi, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, bursa menekan tombol darurat. Perdagangan dihentikan. Waktu seolah membeku.

Bukan karena perang.

Bukan karena bencana alam.

Melainkan karena sesuatu yang lebih sunyi namun jauh lebih dalam: hilangnya kepercayaan.

Hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan jatuh hingga mendekati delapan persen. Sebuah penurunan yang tidak lagi bisa disebut fluktuasi biasa. Ia adalah kejadian pasar. Ia adalah pesan.

Pasar sedang berbicara. Dan suaranya keras.

-000-

Selama ini kita kerap memandang pasar saham sebagai arena angka. Naik turun grafik dianggap wajar, bagian dari dinamika ekonomi.

Namun sejarah menunjukkan, ada saat-saat ketika pasar tidak sekadar bereaksi pada kinerja perusahaan, melainkan pada rasa aman kolektif.

Kejatuhan ini tidak berdiri sendiri. Ia terjadi bersamaan dengan peringatan dari MSCI, lembaga indeks global yang menjadi rujukan utama investor institusional dunia.

MSCI menyoroti persoalan transparansi, kejelasan free float, dan keterbacaan struktur pasar Indonesia.

Bahasanya teknis. Nadanya dingin. Namun dampaknya emosional.

Karena bagi pasar global, MSCI bukan sekadar penyusun indeks. Ia adalah penjaga gerbang. Ketika penjaga gerbang berkata, “Ada yang perlu ditinjau ulang,” modal global tidak berdebat. Ia mundur.

Di titik ini, kita perlu memahami satu hal mendasar: pasar tidak panik karena kabar buruk, tetapi karena ketidakpastian.

-000-

Ekonom peraih Nobel, Douglass North, dalam bukunya Institutions, Institutional Change and Economic Performance, menulis bahwa institusi bukan hanya aturan tertulis, melainkan mekanisme pembentuk kepercayaan.

Ketika institusi gagal memberi kepastian, biaya ekonomi melonjak, bukan karena produksi turun, tetapi karena keyakinan runtuh.

Apa yang terjadi di pasar saham Indonesia adalah ilustrasi nyata dari tesis itu. Persoalannya bukan semata valuasi emiten, melainkan pertanyaan yang jauh lebih eksistensial: apakah angka-angka ini mencerminkan nilai yang bisa dipercaya.

Pasar modern hidup dari asumsi bahwa data dapat diverifikasi, struktur dapat dibaca, dan risiko dapat dihitung.

Ketika asumsi itu goyah, pasar bereaksi lebih cepat daripada pidato pejabat atau klarifikasi resmi.

-000-

Di sisi lain, Robert J. Shiller, juga peraih Nobel Ekonomi, dalam Narrative Economics, menjelaskan bahwa krisis ekonomi sering kali dipicu oleh cerita yang menyebar lebih cepat daripada fakta.

Cerita tentang keraguan, tentang angka yang tidak sepenuhnya transparan, tentang standar yang dipertanyakan, dapat menjalar seperti virus.

Kita menyaksikan itu terjadi. Narasi tentang investability issues berubah menjadi ketakutan kolektif. Dan ketakutan, dalam pasar, selalu lebih kuat daripada harapan.

Inilah sebabnya mengapa kejatuhan kemarin terasa begitu tajam. Ia bukan hanya koreksi harga, melainkan koreksi kepercayaan.

-000-

MSCI lahir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari kegelisahan investor.

Pada akhir 1960-an, ketika arus modal mulai menyeberangi batas negara, para investor global menghadapi kebingungan yang sama.

Mereka ingin menanam modal lintas benua, tetapi tidak memiliki pedoman yang seragam. Setiap negara memakai ukuran sendiri. Setiap pasar berbicara dengan bahasa yang berbeda. Risiko tidak bisa dibandingkan. Keputusan menjadi spekulasi.

Dari kegelisahan itulah MSCI, Morgan Stanley Capital International, dilahirkan.

MSCI bukan sekadar pembuat indeks. Ia adalah upaya kolektif dunia finansial untuk menyepakati satu bahasa bersama.

Bahasa tentang risiko, likuiditas, transparansi, dan keterbacaan pasar. Dengan indeks MSCI, investor tidak lagi menebak-nebak. Mereka membandingkan. Mereka menimbang. Mereka memutuskan.

Itulah sebabnya MSCI menjadi penting. Bukan karena kekuasaannya, tetapi karena kepercayaan yang didelegasikan kepadanya.

Hari ini, ribuan miliar dolar dana global, baik dana pensiun, sovereign wealth fund, maupun ETF pasif, bergerak mengikuti indeks MSCI.

Ketika sebuah negara masuk, keluar, atau diperingatkan oleh MSCI, arus modal tidak menunggu debat. Ia bergerak otomatis.

MSCI memberi tiga hal yang paling dicari investor.

Standar. Konsistensi metodologi.

Independensi dari politik nasional.

Wibawa MSCI tidak dibangun lewat slogan, melainkan lewat puluhan tahun ketekunan metodologis. Ia tidak sempurna, tetapi dapat diprediksi. Dan bagi investor, prediktabilitas lebih berharga daripada janji.

Tentu MSCI bukan satu-satunya. Ia memiliki kompetitor seperti FTSE Russell, S&P Dow Jones Indices, dan STOXX.

Namun MSCI unggul karena jangkauan globalnya paling luas dan adopsinya paling dalam oleh dana institusional dunia. Dalam ekosistem investasi global, MSCI telah menjadi rujukan baku.

Saya merasakan langsung arti MSCI itu secara personal.

Dalam berbagai forum internasional yang saya hadiri, baik sebagai peneliti, pembicara, maupun pengamat, saya menyaksikan bagaimana Indonesia sering dibaca bukan dari pidato pejabatnya, melainkan dari indikator-indikator global.

Saat investor menyebut Indonesia, mereka jarang menyebut angka pertumbuhan lebih dulu. Mereka menyebut MSCI. Mereka menyebut tata kelola. Mereka menyebut kepercayaan.

Di situlah saya tersadar. Kita boleh merasa berdaulat, tetapi modal global hidup dalam ekosistem rujukan yang tidak kita kendalikan sepenuhnya.

Maka ketika MSCI memberi peringatan, respons Indonesia tidak boleh emosional. Tidak defensif. Tidak reaktif. Yang diperlukan adalah pembenahan sunyi namun fundamental.

Indonesia perlu menjawab MSCI bukan dengan retorika, tetapi dengan tindakan. Memperjelas struktur free float. Memperkuat transparansi kepemilikan. Menjamin bahwa angka bukan sekadar sah secara administratif, tetapi adil secara ekonomi.

Transparansi berarti kita harus memastikan saham yang diperdagangkan benar-benar tersedia, bukan fiktif. Ini butuh aturan jelas dan penegak hukum yang berani menghukum kecurangan pasar.**

Karena pada akhirnya, MSCI hanyalah cermin.

Dan yang menentukan apakah kita dipercaya atau tidak, adalah wajah yang kita perlihatkan di cermin itu.

-000-

Indonesia sesungguhnya bukan negara miskin potensi. Sumber daya alam besar, pasar domestik luas, dan bonus demografi masih terbuka.

Namun di era global, potensi tidak cukup. Dunia tidak hanya bertanya apa yang kita miliki, tetapi seberapa bisa kita dipercaya mengelolanya.

Pasar global tidak menuntut kesempurnaan. Ia menuntut keterbacaan. Ia menuntut transparansi yang konsisten, bukan klarifikasi sesekali. Ia menuntut sistem yang membuat manipulasi menjadi mahal, bukan mudah.

Kejatuhan IHSG adalah wake up call. Bukan untuk panik, melainkan untuk bercermin.

-000-

Sejarah mengajarkan, krisis sering kali datang bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk memaksa perubahan.

Negara yang belajar dari sinyal pasar akan keluar lebih kuat. Negara yang menepisnya akan mengulang luka yang sama.

Di balik angka-angka yang jatuh hari itu, tersembunyi satu pesan sederhana namun mendesak: kepercayaan adalah infrastruktur paling mahal dan paling rapuh dalam ekonomi modern.

Dan infrastruktur itu tidak bisa dibangun dengan retorika. Ia hanya bisa ditegakkan dengan konsistensi, transparansi, dan keberanian membenahi diri.

-000-

Sebagaimana ditulis Warren Buffett, seorang investor yang memahami psikologi pasar lebih dari sekadar angka:

“It takes twenty years to build a reputation and five minutes to ruin it.

If you think about that, you will do things differently.”

Karena pada akhirnya, ekonomi bukan hanya soal arus modal, tetapi arus makna. Kepercayaan tumbuh ketika data menjadi bahasa moral, dan transparansi menjadi bentuk tertinggi dari tanggung jawab publik.*

Jakarta, 29 Januari 2026

REFERENSI

1. Institutions, Institutional Change and Economic Performance

Douglass C. North

Cambridge University Press

1990

2. Narrative Economics: How Stories Go Viral and Drive Major Economic Events

Robert J. Shiller

Princeton University Press

2017

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1GC4LuYHZG/?mibextid=wwXIfr ***