Di Tengah Pelemahan Rupiah, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menkeu Purbaya Bertemu di Istana Negara
ORBITINDONESIA.COM - Di tengah pelemahan rupiah, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menkeu Purbaya bertemu di Istana Negara dengan difasilitasi Mensesneg Prasetyo Hadi.
Purbaya mengatakan, diskusi dilakukan untuk sinkronisasi kebijakan antara Kemenkeu dan BI. Kemenkeu akan membenahi fiskal dan perekonomian, dan BI akan mengambil langkah yang perlu untuk menjaga nilai tukar rupiah.
Hari Rabu, 21 Januari 2025, rupiah dibuka stagnan di Rp 16.950/USD. Mayoritas mata uang Asia bergerak di zona hijau menyusul tekanan terhadap dolar AS, kecuali rupiah yang belum mampu memanfaatkan momentum itu. Ada beberapa faktor domestik yang masih mengganjal rupiah, terutama terkait kebutuhan pembiayaan fiskal dan persepsi risiko aset rupiah.
BI mengungkapkan, pelemahan rupiah 1,53 persentase poin dari akhir Desember 2025 menjadi Rp 16.945/USD kemarin, dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat ketidakpastian pasar keuangan global.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, hingga 19 Januari 2026 net outflow mencapai USD 1,6 miliar. Selain itu ada kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi.
BI yakin nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Perbaikan ini akan ditopang oleh yield atau imbal hasil pasar keuangan Indonesia yang menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi Indonesia yang lebih baik.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyarankan pemerintah segera memulihkan kepercayaan pasar lewat kepastian arah kebijakan, mulai dari target defisit, sumber pembiayaan, prioritas belanja, hingga rambu pengaman jika penerimaan meleset.
Selain itu, pembiayaan utang harus dikelola secara terukur dengan pengaturan jadwal penerbitan, serta koordinasi dengan BI untuk menjaga likuiditas rupiah.
Langkah lainnya, kata Josua, perlu ada desain kebijakan devisa hasil ekspor dengan memberlakukan skema yang mendorong repatriasi dan ketersediaan valas di pasar tanpa memberatkan arus kas eksportir.
Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate sebesar 4,75%. Ini adalah keempat kalinya BI mempertahankan suku bunga di 4,75% sejak September 2025. Dengan ini, BI juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility di 3,75%, dan suku bunga lending facility tetap 5,5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kebijakan ini diarahkan untuk kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari ketidakpastian global serta tekanan inflasi pada 2026-2027. Keputusan BI tersebut sudah diduga. Para ekonom/analis melihat nilai tukar rupiah masih menjadi pertimbangan utama dalam keputusan mempertahankan BI Rate.***