Trump dan Janji Energi Murah: Realita dan Tantangan

ORBITINDONESIA.COM – Janji Presiden Trump untuk mengurangi biaya energi Amerika tetap menjadi kontroversi. Meskipun harga bensin turun, biaya listrik terus meroket.

Selama kampanye, Trump berjanji memangkas biaya energi dan meningkatkan produksi energi domestik. Namun, setahun kemudian, harga bensin memang sedikit turun, tetapi biaya listrik justru meningkat.

Harga minyak turun 20%, dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ dan tekanan politik. Namun, produksi minyak AS menurun karena harga yang tidak menguntungkan. Kebijakan Trump lebih mendukung permintaan minyak jangka panjang, tetapi listrik menjadi lebih mahal akibat kenaikan harga gas alam dan kebijakan yang kurang mendukung energi terbarukan.

Ketidaksepakatan antara pemerintah dan industri minyak terlihat jelas. Sementara Trump mendukung harga minyak rendah, industri menginginkan harga lebih tinggi. Kebijakan energi tidak fokus pada solusi jangka panjang yang mendukung energi terbarukan dan efisiensi, yang dapat mengurangi biaya listrik.

Janji Trump untuk mengurangi biaya energi belum sepenuhnya terpenuhi. Dengan fokus pada solusi energi yang lebih berkelanjutan, ada peluang untuk menurunkan biaya listrik di masa depan. Namun, apakah kebijakan tersebut akan diimplementasikan, masih menjadi pertanyaan besar.

(Orbit dari berbagai sumber, 22 Januari 2026)