Hikmahanto Juwana: Dunia adalah Saya

Oleh Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI

ORBITINDONESIA.COM - Pasca serangan AS atas Venezuela untuk membawa Presiden Nicholas Maduro ke Pengadilan di New York City, Presiden Donald J. Trump mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan hukum internasional. Satu-satunya yang membatasi tindakannya adalah moralitas dirinya.

Saat detik-detik AS hendak menyerang Iran, tiba-tiba Trump membatalkannya. Saat ditanya oleh pers apakah keputusannya karena mendengar sejumlah pandangan dari negara Teluk, ia mengatakan keputusannya didasarkan pada keyakinan dirinya sendiri.

Trump sebagai Sumber Tunggal

Di Prancis saat Raja Louis XIV (1643-1715) berkuasa ia dikorelasikan dengan pernyataan“Negara adalah Saya (L’Etat c’est Moi).” Pernyataan ini menegaskan sumber tunggal dari semua otoritas kekuasaan negara adalah dirinya.

Pernyataan Raja Louis XIV seolah berlaku bagi Trump saat ini yang sedang memegang kekuasaan dari sebuah negara adidaya. Baginya “Dunia adalah saya (Le Monde c’est Moi)”.

Berbagai keputusan penting AS dalam geopolitik hanya Trump yang menentukan. Trump tidak membutuhkan hukum internasional untuk membenarkan tindakan AS, tidak membutuhkan nasihat dari para pembantunya, terlebih lagi pandangan dari berbagai negara, termasuk sekutu terdekatnya. Keputusan Trump semata-mata hanya didasarkan pada keyakinannya.

Saat AS melakukan serangan ke Venezuela untuk menciduk Maduro, jelas-jelas tindakan ini bertentangan dengan Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB.

Pasal tersebut menegaskan, “Semua Anggota wajib menahan diri dalam hubungan internasional mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik setiap negara, atau dengan cara lain yang tidak konsisten dengan Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Alasan penyerangan AS ke Venezuela menurut Trump yang disurakan oleh Menteri Luar Negeri Rubio dan Dubes AS di PBB bukanlah agresi suatu negara terhadap negara lain, tetapi merupakan tindakan penegakan hukum. Ini karena Maduro harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di Pengadilan New York City atas dakwaan Narco-terrorism. Trump seolah memberlakukan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS.

Demikian pula saat Trump mengancam akan menyerang Iran bila otoritas di Iran melakukan penembakan para demonstran serta mengekseksui 800 orang, meski menurut otoritas Iran tidak ada rencana eksekusi tersebut.

Ancaman Trump terhadap Iran jelas bertentangan dengan Pasal 2 ayat (7) Piagam PBB yang mengusung prinsip non-intervensi dalam urusan domestik suatu negara.

Memang bisa saja Trump mencari alasan berdasarkan hukum internasional untuk menghentikan otoritas suatu negara yang melakukan pelanggaran HAM terhadap rakyatnya sendiri.

Dalam hukum internasional ada kewajiban erga omnes (berlaku untuk semua orang) bila suatu pemerintahan menindas HAM rakyatnya atau suatu bangsa. Bila itu yang digunakan sebagai alasan, bisa jadi Trump akan dipertanyakan mengapa PM Benjamin Netanyahu tidak dihentikan saat melakukan penyerangan terhadap rakyat Palestina di Gaza?

Dunia Melawan AS

Dunia melawan atas sikap Trump yang tidak ramah terhadap Dunia, termasuk keinginannya untuk mencaplok Greeland dan pengenaan tarif yang lebih tinggi kepada negara-negara yang menentang kehendaknya.

Negara-negara Eropa, terutama yang tergabung dalam NATO memberi peringatan pecahnya pakta pertahanan NATO. Sejumlah pasukan dari negara-negara NATO pun diturunkan ke Greenland.

PM Kanada Mark Carney dalam kunjungannya ke China dan menyatakan hubungan kedua negara akan membangun tatanan dunia yang baru seolah memberi pesan kepada Trump yang kerap memojokkan tetangga terdekatnya tersebut.

China dan Rusia pun membuat pernyataan-pernyataan yang menentang keponggahan Trump. China dan Rusia cukup bijak untuk tidak menghadapi Trump dengan senjata secara langsung. Kedua negara tersebut lebih memilih untuk membantu negara yang ditarget oleh Trump, bahkan menjadikan negara tersebut proxy untuk menghadapi AS.

Rakyat AS sebagai Penentu

Hingga saat ini sepertinya Ambisi Trump untuk membangun kekaisarannya dengan slogan Make America Great Again tidak terbendung. Tidak oleh hukum internasional, tidak oleh organisasi internasioal seperti PBB, tidak juga oleh negara-negara yang memiliki kekuatan seperti AS.

Hanya satu yang dapat membendung ambisi Trump: rakyat AS.

Dalam waktu dekat di AS akan melakukan pemilihan anggota kongres (mid-term election). Inilah yang ditakuti oleh Trump.

Di depan para anggota kongres Partai Republik, Trump mengatakan, “You gotta win the midterms' or 'I'll get impeached (Anda harus menangkan pemilihan midterm atau saya akan dimakzulkan)”.

Bagi Trump bila Kongres dikuasai oleh Partai Demokrat maka ia sadar akan menghadap pemakzulan. Belum lagi peristiwa penembakan Renee Good di Minessota oleh agen ICE yang membuat approval rating rakyat AS atas Trump menurun drastis.

Kekuasaan absolut tidak mungkin bertahan dan dipertahankan. Kekuasaan absolut akan runtuh dengan suara mayoritas, apakah rakyat ataupun masyarakat internasional. Bila itupun masih gagal, Tuhan dengan caranya akan menghentikan pemegang kekuasaan absolut. ***