Sejarawan Yahudi Anti-Zionis Mengungkap Genosida dan Pelenyapan Populasi Palestina di Gaza
Avi Shlaim. Genocide in Gaza: Israel, Hamas, and the Long War on Palestine. Penerbit: The Irish Pages Press, 2025. Tebal: 160 hlm.
ORBITINDONESIA.COM - Buku ini merupakan kumpulan esai dan analisis kritis dari sejarawan Avi Shlaim mengenai agresi brutal yang dilancarkan Israel di Gaza, setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Operation Swords of Iron (Operasi Pedang Besi), nama resminya, merupakan tonggak penting dalam sejarah berdarah konflik Israel-Palestina.
Ini adalah serangan militer Israel kedelapan di Gaza sejak Operasi Cast Lead pada Desember 2008. Ini juga merupakan serangan paling kejam, destruktif, dan mematikan dengan jumlah korban jiwa yang jauh melebihi total gabungan dari tujuh serangan sebelumnya.
Dalam buku ini, Avi Shlaim menempatkan kebijakan Israel terhadap Jalur Gaza di bawah lensa yang tanpa kompromi. Ia berpendapat bahwa serangan berulang ini – yang oleh para jenderal Israel disebut dengan mengerikan sebagai "memotong rumput" (mowing the lawn) – adalah hasil yang tak terhindarkan dari kolonialisme pemukim Zionis, yang tujuan dasarnya adalah pelenyapan penduduk asli Palestina.
Dalam buku ini Shlaim tidak hanya mendeskripsikan kekerasan dan destruksi, tetapi juga menyatakan bahwa tindakan tersebut telah melampaui agresi militer biasa menjadi bentuk genosida. Shlaim menunjukkan keterlibatan negara-negara adidaya dalam mendukung atau memfasilitasi kebijakan tersebut secara diplomatik dan militer.
Buku ini menambah kontribusi panjang Shlaim sebagai salah satu sejarawan terkemuka dalam kajian konflik Israel–Palestina, dengan pendekatan yang kuat secara historis, kritis, dan normatif terhadap isu perang, kolonialisme, serta hak asasi manusia.
Dari Konflik ke Kejahatan Internasional
Shlaim membuka buku dengan tesis besar: Apa yang terjadi di Gaza bukan lagi konflik bersenjata konvensional, melainkan telah memenuhi unsur genosida menurut hukum internasional. Ia menolak narasi “perang melawan Hamas” dan menunjukkan bahwa kebijakan Israel secara sistematis menargetkan populasi sipil, infrastruktur hidup, dan masa depan masyarakat Gaza.
Pendahuluan ini sekaligus memperjelas posisi Shlaim sebagai sejarawan Yahudi anti-Zionis, yang menulis bukan dari sentimen ideologis, tetapi dari pembacaan arsip, hukum, dan pola historis kekerasan.
Bab ini menelusuri akar kolonial proyek Zionisme sejak awal abad ke-20. Shlaim menghubungkan Deklarasi Balfour, Mandat Inggris, dan Nakba 1948 sebagai satu kontinum kolonial, bukan peristiwa terpisah. Menurutnya, sejak awal terdapat logika “transfer” atau penghapusan penduduk asli Palestina. Gaza, dalam konteks ini, bukan anomali—melainkan kulminasi sejarah panjang eksklusi.
Shlaim menguraikan bagaimana blokade Gaza sejak 2007 menjadikannya open-air prison: pembatasan listrik, air, bahan bakar; kontrol pergerakan manusia dan barang; ketergantungan total pada izin Israel. Ia menegaskan, blokade ini bukan kebijakan keamanan sementara, tetapi bentuk hukuman kolektif permanen, yang dilarang oleh hukum humaniter internasional.
“Mowing the Lawn”: Doktrin Kekerasan Berulang
Shlaim membedah doktrin militer Israel yang disebut “Mowing the Lawn”, yakni strategi melakukan serangan besar berkala ke Gaza untuk “mengelola” perlawanan Palestina, bukan menyelesaikannya.
Ia menunjukkan bahwa serangan Israel dilakukan dengan kesadaran penuh akan korban sipil. Infrastruktur sipil dijadikan target sah. Tidak ada tujuan politik selain pelemahan demografis dan psikologis. Ini, menurut Shlaim, adalah indikator niat (intent)—elemen kunci dalam definisi genosida.
Shlaim mengakui kejahatan perang Hamas pada 7 Oktober 2023, tetapi menolak penggunaannya sebagai pembenaran kehancuran Gaza. Ia menegaskan: Kejahatan satu aktor tidak membenarkan genosida kolektif. Israel menggunakan tragedi itu untuk menghapus batas hukum perang. Narasi “hak membela diri” disalahgunakan untuk agresi tanpa batas.
Serangan Israel terhadap rumah sakit, air, dan kehidupan, adalah bukti argumen genosida menjadi paling kuat. Shlaim menginventarisasi penyerangan oleh militer Israel terhadap rumah sakit, pemutusan air dan listrik, penghancuran sistem sanitasi, dan kelaparan massal sebagai instrumen perang. Ia menegaskan, menghancurkan syarat-syarat hidup suatu kelompok adalah bentuk genosida menurut Konvensi PBB 1948.
Keterlibatan AS dan Barat
Shlaim menggeser fokus dari Israel ke arsitektur kekuasaan global. Shlaim menuduh AS sebagai enabler utama genosida melalui bantuan senjata ke Israel dan veto di Dewan Keamanan PBB. Inggris dan Eropa sebagai kolaborator pasif. Sedangkan media Barat sebagai normalisator kekerasan ekstrem. Ia menyebut Gaza sebagai cermin kegagalan moral Barat pasca-Holocaust.
Shlaim juga menunjukkan tidak berdayanya hukum internasional. Shlaim mengulas gugatan Afrika Selatan di Mahkamah Kriminal Internasional (ICJ), kegagalan PBB menghentikan kekerasan, dan standar ganda dalam penerapan HAM. Shlaim menyimpulkan, hukum internasional tidak runtuh karena lemah, tetapi karena secara politis dilumpuhkan oleh negara kuat.
Dalam bab penutup bukunya, Shlaim menarik kesimpulan besar: Gaza adalah ujian moral global, dan dunia sedang menyaksikan normalisasi genosida. Jika Gaza gagal diselamatkan, rezim hukum internasional kehilangan legitimasi. Ia menutup dengan peringatan: “Apa yang hari ini ditoleransi di Gaza, besok akan diterapkan di tempat lain.”
Avi Shlaim dan “New Historians”
Avi Shlaim adalah sejarawan dan akademisi keturunan Yahudi Irak yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam kelompok sejarawan kritis Israel yang disebut “New Historians”—sebuah golongan akademisi yang merevisi narasi resmi tentang sejarah Zionisme dan konflik Arab-Israel berdasarkan arsip yang baru dibuka. Ia menjabat sebagai Emeritus Professor of International Relations di St Antony’s College, Universitas Oxford dan pernah menjadi fellow di British Academy.
Lahir pada 31 Oktober 1945 di Baghdad, Irak, Shlaim berasal dari keluarga Yahudi Iral yang bermigrasi ke Israel sekitar 1950. Ia memiliki kewarganegaraan ganda—Israel dan Inggris. Ia menempuh pendidikan tinggi di Inggris dan berkarier sebagai akademisi di sana sejak 1966.
Shlaim pernah tumbuh dalam masyarakat Israel dan menjalani masa muda dengan pemahaman umum tentang Zionisme yang lazim pada saat itu. Namun, ia bukanlah aktivis Zionis yang vokal, dan secara luas justru dikenal karena kritiknya terhadap Zionisme lewat karyanya sebagai sejarawan.
Shlaim pernah menjalani dinas militer di Israel di awal usia 20-annya, termasuk sebagai instruktur komunikasi di Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Ia pun pernah mencoba mendaftar kembali saat Perang Enam Hari menjelang pecahnya konflik, meskipun upaya itu tidak berlanjut.
Namun pengalaman itu bukanlah karier militernya—itu bagian kecil dari masa mudanya sebelum ia pindah ke Inggris untuk studi lanjutan. Sejak itu, kariernya lebih banyak berada di ranah akademik dan penelitian sejarah.
Shlaim menjadi terkenal karena kritiknya terhadap narasi Zionis tradisional tentang pembentukan Israel dan hubungan Israel–Palestina. Berdasarkan penelitian arsip yang dibuka pada awal 1980-an, ia menemukan bahwa banyak interpretasi resmi sejarah Israel tidak didukung oleh bukti faktual yang kuat. Hal ini mengarahkan ia menjadi bagian dari “New Historians”—sejarawan yang melihat konflik itu melalui lensa lebih kritis terhadap narasi negara Israel.
Dalam wawancara dan tulisannya, ia menyatakan dirinya sebagai “Arab Jew” (Yahudi Arab) yang bangga akan kedua warisan budaya, namun secara tajam mengkritik kebijakan Zionis modern dan perang yang memakan korban sipil. Ia juga menolak gagasan bahwa konflik hanya bisa diselesaikan melalui kekuatan militer dan memandang pendekatan politik dan hukum internasional sebagai jalan yang lebih sah.
Avi Shlaim percaya bahwa pemerintahan Benjamin Netanyahu adalah rezim Israel yang paling rasis dan agresif sejauh ini. Shlaim percaya bahwa hal itu telah menjadikan Israel tempat yang paling tidak aman bagi orang Yahudi di dunia.
*Satrio Arismunandar adalah lulusan S3 Filsafat FIB UI, Pemimpin Redaksi OrbitIndonesia.com, dan Sekjen Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA. Kontak/WA: 081286299061. ***