Evolusi Mematikan: Rusia Mulai Pasang Starlink di Drone Kamikaze BM-35, Ukraina Waspada

ORBITINDONESIA.COM – Medan perang udara di Ukraina kembali mengalami pergeseran teknologi yang signifikan. Untuk pertama kalinya, pasukan pertahanan Ukraina berhasil mengonfirmasi temuan komponen terminal satelit Starlink yang terpasang pada drone kamikaze tipe BM-35 milik Rusia.

Temuan ini diungkapkan oleh Serhii "Flash" Beskrestnov, seorang pakar perang elektronik (EW) terkemuka Ukraina, pada 15 Januari 2026. Dalam laporannya yang menyertakan bukti dokumentasi dari unit militer di lapangan, Serhii menyebut temuan ini sebagai "berita buruk" bagi sistem pertahanan udara.

Mengapa Ini Berbahaya?

Selama ini, drone kamikaze jarak jauh seperti Shahed-136 terbang menuju koordinat statis yang sudah diprogram sebelumnya menggunakan GPS/GLONASS. Namun, dengan integrasi Starlink, drone berubah menjadi senjata presisi yang bisa dikendalikan secara real-time (man-in-the-loop).

"Ini bukan lagi sekadar bom terbang buta. Dengan Starlink, operator di Rusia bisa melihat video langsung dari drone, mengubah target di tengah penerbangan, bahkan memburu sasaran bergerak seperti konvoi militer atau sistem artileri," ungkap Serhii. Yang lebih mengkhawatirkan, tautan komunikasi satelit ini membuat drone jauh lebih sulit dilumpuhkan oleh sistem jamming radio konvensional yang selama ini menjadi andalan Ukraina.

Ancaman Berikutnya: Shahed Starlink?

Meski temuan saat ini spesifik pada model BM-35 (drone sayap delta dengan mesin depan), para ahli memperingatkan bahwa ini hanyalah permulaan. Serhii memprediksi hanya masalah waktu—mungkin dalam hitungan hari—sebelum teknologi serupa dipasang pada drone produksi massal seperti Shahed-136/Geran-2.

Respons SpaceX

Menanggapi laporan yang terus berulang mengenai penggunaan teknologinya oleh pihak Rusia, SpaceX menegaskan kembali bahwa layanan Starlink tidak aktif di wilayah Rusia dan perusahaan tidak pernah menjual perangkat tersebut ke Moskow.

Perusahaan milik Elon Musk itu menyatakan berkomitmen untuk menonaktifkan terminal yang terdeteksi digunakan oleh pihak-pihak yang terkena sanksi internasional, meskipun jalur penyelundupan melalui pasar gelap di negara ketiga masih menjadi tantangan besar yang sulit dibendung.

(Lhynaa Marlinaa)***