Ledakan di SMAN 72: Kultivasi Kekerasan di Era Digital
ORBITINDONESIA.COM – Seperti kecambah yang bertumbuh, kekerasan menjadi niscaya saat bahan-bahannya bersatu. Peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta, Jumat lalu, membuka mata kita akan kenyataan mengerikan ini.
Ledakan di SMAN 72 Jakarta mengejutkan banyak pihak. Diduga dilakukan oleh seorang siswa yang merasa sakit hati akibat perundungan. Fenomena ini mengungkapkan bagaimana perundungan dapat berkembang menjadi aksi kekerasan ketika didukung oleh faktor-faktor tertentu.
Ada tiga komponen penting dalam kasus ini: akses pada perangkat kekerasan, legitimasi kekerasan, dan pembelajaran melalui komunitas siber. Dunia digital memfasilitasi proses ini dengan menyediakan platform yang menyatukan elemen-elemen tersebut. Menurut kajian terorisme, fenomena ini mirip dengan ancaman subkultur incel yang mengglorifikasi kekerasan.
Kasus ini menunjukkan bahwa kita harus lebih waspada terhadap kultivasi kekerasan di dunia maya. Komunitas seperti true crime community menjadi ladang subur bagi ekstremisme. Penting bagi institusi pendidikan dan keluarga untuk lebih proaktif dalam memantau aktivitas daring anak-anak dan remaja.
Peledakan di SMAN 72 harus menjadi peringatan bagi kita semua. Apakah kita akan membiarkan fenomena ini terus berkembang, ataukah kita akan mengambil langkah untuk mencegahnya? Dunia digital adalah pedang bermata dua yang harus digunakan dengan bijak.
(Orbit dari berbagai sumber, 17 Januari 2026)