Gaya Baru Batik Anak Muda: Berkain sebagai Pilihan Gaya

Di sebuah kafe kecil, seorang anak muda duduk santai mengenakan sarung batik yang dipadukan dengan blazer longgar dan sepatu kasual. Tidak ada kesan resmi, apalagi menyerupai busana upacara adat. Yang terlihat justru kepercayaan diri, sebuah penegasan bahwa batik dapat dikenakan kapan saja. Bukan hanya pada acara formal, tetapi juga saat bersantai bersama teman atau sekadar nongkrong di pusat perbelanjaan. Dalam konteks ini, batik hadir sebagai pilihan busana anak muda yang modern, fleksibel, dan relevan dengan gaya hidup masa kini.

Pemandangan seperti ini kini semakin sering ditemui. Batik pelan-pelan keluar dari lemari acara formal dan masuk ke keseharian generasi muda. Ia hadir di kampus, di ruang kreatif, di panggung komunitas, bahkan di jalanan. Bagi anak muda, batik bukan lagi simbol kewajiban budaya, melainkan pilihan gaya yang lahir dari kesadaran dan rasa cinta terhadap warisan budaya.

Generasi muda saat ini tumbuh dalam dunia yang serba visual dan global. Mereka terbiasa bersentuhan dengan beragam gaya dari berbagai belahan dunia. Namun justru dari situ muncul kerinduan akan sesuatu yang dapat merepresentasikan identitas bangsa. Batik sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO, menawarkan identitas yang tidak generik, motif yang sarat cerita serta kain yang menyimpan jejak tempat dan manusia. Meski demikian, agar tetap relevan dan diterima oleh generasi muda, batik perlu terus berdialog dengan perkembangan zaman.

Salah satu ruang dialog itu lahir dari komunitas Remaja Nusantara. Komunitas ini menjadi wadah bagi anak muda yang ingin mengenal kembali kain tradisional dengan cara yang relevan. Melalui konten digital dan kegiatan luring, mereka memperlihatkan bahwa sarung batik bisa dikenakan dengan berbagai cara: dipadukan dengan blazer, jaket, atau sepatu bot, tanpa kehilangan ruhnya.

Remaja Nusantara tidak sekadar memamerkan tampilan. Mereka juga mengajak belajar, tentang cara mengenakan dan mengikat sarung batik dengan benar, tentang makna kain, dan tentang keberanian membawa tradisi ke ruang publik. Dari sini lahir gerakan yang mereka sebut “berkain”, sebuah ajakan untuk tidak menjadikan kain tradisional sebagai benda museum, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi banyak anak muda, berkain adalah pernyataan sikap. Bahwa mencintai budaya tidak harus selalu tampil formal. Bahwa tradisi bisa lentur, bergerak, dan menyatu dengan keseharian. Batik pun tidak lagi berdiri sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai medium ekspresi masa kini.

Di ranah mode, perubahan ini turut ditangkap oleh para perancang. Motif batik mulai hadir dalam potongan yang lebih modern, kemeja santai, outer ringan, gaun kasual, hingga aksesori. Bahkan, batik juga berjumpa dengan identitas budaya lain. Di Indonesia dan Singapura, muncul busana seperti cheongsam bermotif batik, yang mencerminkan pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara. Busana ini kerap dikenakan dalam momen-momen penting keluarga, menjadi simbol harmoni lintas identitas.

Namun, tantangan tetap ada. Batik membawa nilai sejarah dan filosofi yang tidak ringan. Di sinilah peran perancang dan komunitas menjadi penting: bagaimana membuat batik tetap bermakna, tanpa terasa jauh atau eksklusif. Banyak desainer Indonesia memilih jalan tengah, menjaga motif dan teknik, sambil menghadirkan potongan yang lebih mudah dikenakan oleh generasi muda.

Lebih dari sekadar soal gaya, pilihan anak muda terhadap batik juga berkaitan dengan nilai. Ada kesadaran baru tentang siapa yang membuat pakaian mereka, dari mana kain berasal, dan bagaimana dampaknya. Batik menjadi pintu masuk untuk percakapan tentang keberlanjutan, kerja pengrajin, dan warisan yang perlu dirawat bersama.

Hari ini, batik tidak lagi menunggu hari tertentu untuk dikenakan. Ia ikut berjalan bersama generasi muda, menyusuri kota, ruang kreatif, dan pertemuan-pertemuan kecil yang penuh cerita. Dalam kebebasan itu, batik menemukan rumah barunya: bukan di balik lemari, melainkan di tubuh anak muda yang percaya bahwa identitas bisa dikenakan dengan bangga.