Airlangga Hartarto: Di Tengah Meningkatnya Ketegangan Geopolitik, Ekonomi RI Masih Tangguh

ORBITINDONESIA.COM - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik, ekonomi RI masih tangguh. Risiko resesi masih berada di level yang lebih rendah dibandingkan AS, China, dan Jepang.

Ketahanan resesi itu tercermin dari kinerja ekonomi yang konsisten dengan pertumbuhan kisaran 5% selama 7 tahun berturut-turut. Inflasi terkendali di 2,92% pada Desember 2025. Pasar keuangan menunjukkan kinerja positif, IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi menyentuh 9.000, dan nilai tukar rupiah yang relatif stabil.

Aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi, dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di level 51,2, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) meningkat menjadi 123,5. Selain itu, neraca perdagangan mencatat surplus selama 67 bulan beruntun, dengan cadangan devisa di level tertinggi USD 156,1 miliar.

Pertumbuhan kredit perbankan masih positif, mendekati 8%. Sementara realisasi investasi asing mencapai Rp 1.434 triliun hingga September 2025, dan bisa meningkat hingga Rp 1.900 pada akhir tahun.

Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 turun menjadi USD 423,8 miliar, lebih rendah dibanding Oktober sebesar USD 424,9 miliar. Secara tahunan, ULN Indonesia mencatat pertumbuhan 0,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan Oktober sebesar 0,5% (yoy).

Ini dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik. BI menyebut, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Itu tercermin dari rasio ULN terhadap PDB yang turun dari 29,4% pada Oktober menjadi 29,3% di November 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 86,1% dari total ULN.

ULN pemerintah turun menjadi USD 209,8 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar USD 210,5 miliar. Secara tahunan, pertumbuhan ULN pemerintah melambat dari 4,7% (yoy) pada Oktober menjadi 3,3% (yoy) pada November 2025. Terutama efek berkurangnya kepemilikan SBN.

ULN swasta juga turun, menjadi USD 91,2 miliar pada November, lebih rendah dari Oktober 2025 sebesar USD 191,7 miliar. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 1,5% (yoy).

Realisasi investasi sepanjang 2025 jauh melampaui target pemerintah, dengan pertumbuhan 2 digit dibanding 2024. Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan P Roeslani mengatakan, sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp 1.931,2 triliun atau 101,3% dari target pemerintah Rp 1.905,6 triliun, dan naik 12,7% dibanding capaian 2024.

Sebanyak 2,71 juta orang tenaga kerja baru terserap, naik 10,4% dibanding 2024. Mayoritas investasi, 51,3% masuk di luar Jawa dengan nilai Rp 991,2 triliun. Sementara 48,7% di Jawa senilai Rp 940 triliun. Investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 1.030,3 triliun (53,4%) dan penanaman modal asing (PMA) Rp 900,9 triliun (46,6%). ***