Resensi Buku "Krisis Dunia Modern" Karya Rene Guenon

ORBITINDONESIA.COM - Buku The Crisis of the Modern World karya René Guénon merupakan kritik tajam terhadap peradaban modern yang, menurutnya, sedang berada pada titik keruntuhan spiritual.

Guénon tidak melihat krisis modern semata sebagai masalah ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan sebagai krisis paling mendasar: krisis makna dan keterputusan manusia dari prinsip-prinsip metafisis yang sakral. 

Guénon memulai analisisnya dengan menyoroti dominasi rasionalisme, materialisme, dan individualisme dalam dunia modern.

Rasio, yang sejatinya adalah alat, telah diangkat menjadi satu-satunya sumber kebenaran. Akibatnya, pengetahuan yang bersifat metafisis, simbolik, dan spiritual dianggap usang atau irasional.

Di sinilah Guénon melihat awal mula krisis: ketika manusia modern menolak dimensi transenden, ia kehilangan orientasi ontologis tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Pengetahuan modern menjadi dangkal karena hanya bergerak di permukaan, terputus dari sumber kebijaksanaan yang lebih dalam.

Bagian paling menarik dari buku ini adalah kritik Guénon terhadap konsep “kemajuan”. Ia mempertanyakan asumsi bahwa perkembangan teknologi dan sains otomatis berarti peningkatan kualitas kemanusiaan.

Menurutnya, kemajuan material justru sering berbanding terbalik dengan kematangan spiritual. Manusia modern mungkin hidup lebih nyaman, tetapi semakin kosong secara batin.

Dalam pandangan Guénon, peradaban tradisional—baik Timur maupun Barat—memiliki keunggulan karena berakar pada prinsip-prinsip universal yang sakral, di mana pengetahuan, kehidupan sosial, dan spiritualitas menyatu dalam satu keselarasan kosmis.

Guénon juga mengkritik fragmentasi ilmu pengetahuan modern yang terpisah-pisah dan kehilangan pusat. Ilmu tidak lagi berfungsi untuk memahami realitas secara utuh, melainkan sekadar menguasai dan mengeksploitasi alam.

Di sinilah krisis ekologis dan dehumanisasi menemukan akarnya. Ketika alam dipandang hanya sebagai objek, dan manusia sekadar sebagai mesin produktif, hubungan sakral antara manusia, alam, dan Yang Ilahi pun runtuh.

Namun, Guénon tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan jalan reflektif: kembali pada prinsip-prinsip tradisi metafisis yang bersifat universal.

Tradisi di sini bukan nostalgia romantik terhadap masa lalu, melainkan warisan kebijaksanaan yang hidup, lintas budaya dan agama, yang menempatkan Yang Absolut sebagai pusat kehidupan.

Guénon percaya bahwa hanya dengan pemulihan dimensi spiritual inilah dunia modern dapat keluar dari krisisnya, meskipun ia pesimistis bahwa perubahan itu akan datang dari arus utama peradaban modern itu sendiri.

Pesan utama buku ini sangat relevan bagi pembaca masa kini: kemajuan tanpa kebijaksanaan adalah ilusi. Dunia modern yang kehilangan arah bukan karena kurangnya inovasi, melainkan karena kehilangan pusat makna.

The Crisis of the Modern World mengajak kita untuk berhenti sejenak, meninjau ulang keyakinan tentang modernitas, dan bertanya secara jujur: apakah kita benar-benar maju, atau justru semakin jauh dari hakikat kemanusiaan kita sendiri?

Buku ini bukan bacaan ringan, tetapi penting bagi siapa pun yang ingin memahami krisis zaman bukan hanya dengan kepala, melainkan juga dengan kedalaman batin.***