Resensi Buku The Historical Roots of Our Ecologic Crisis karya Lynn White Jr.: Krisis Ekologi dan Warisan Teologis Barat
Latar Intelektual dan Posisi Gagasan
ORBITINDONESIA.COM- Esai pendek namun berpengaruh ini menempati posisi yang sangat penting dalam sejarah pemikiran lingkungan modern. Lynn White Jr., seorang sejarawan abad pertengahan, tidak memulai analisisnya dari sains lingkungan atau ekonomi politik, melainkan dari sejarah ide dan teologi Barat. Dengan langkah yang radikal pada masanya, ia mengajukan tesis bahwa krisis ekologi modern bukan semata akibat teknologi atau industrialisasi, melainkan berakar jauh dalam pandangan dunia religius dan filosofis Barat, khususnya tradisi Kristen Latin.
Ketika tulisan ini terbit pada akhir 1960-an, wacana lingkungan masih didominasi oleh pendekatan teknokratis dan ilmiah. White justru menggeser medan persoalan ke wilayah yang lebih dalam: asumsi metafisik manusia tentang alam, relasi manusia dengan ciptaan, dan legitimasi moral untuk mengeksploitasi bumi.
Tesis Sentral: Antroposentrisme Teologis
Gagasan utama White bertumpu pada kritik terhadap antroposentrisme yang ia nilai dilembagakan secara teologis dalam Kekristenan Barat. Menurutnya, penafsiran dominan atas Kitab Kejadian—bahwa manusia diciptakan menurut gambar Tuhan dan diberi mandat untuk “menaklukkan” bumi—telah membentuk sikap eksploitatif terhadap alam. Alam tidak lagi dipahami sebagai entitas yang sakral atau memiliki nilai intrinsik, melainkan sebagai objek yang sah untuk dikuasai demi kepentingan manusia.
White menekankan bahwa pergeseran ini bersifat historis. Dunia pra-Kristen dan banyak tradisi non-Barat memandang alam sebagai ruang yang dipenuhi makna spiritual. Sebaliknya, Kekristenan Barat, terutama sejak Abad Pertengahan, secara perlahan memisahkan manusia dari alam dan menempatkannya di posisi superior. Di sinilah, menurut White, akar kultural dari krisis ekologi modern tertanam.
Teknologi, Sains, dan Etos Penguasaan
Salah satu kekuatan esai ini terletak pada analisis hubungan antara teologi dan perkembangan teknologi. White menunjukkan bahwa sains dan teknologi modern tidak lahir di ruang hampa, melainkan tumbuh dalam iklim kultural tertentu. Etos penguasaan atas alam, yang dilegitimasi secara religius, kemudian menemukan instrumen teknisnya dalam revolusi ilmiah dan industri.
Dengan demikian, teknologi bukan penyebab utama krisis, melainkan perpanjangan dari pandangan dunia tertentu. Kritik White secara implisit menolak optimisme teknologi yang percaya bahwa krisis ekologis dapat diselesaikan hanya dengan inovasi teknis tanpa perubahan nilai dan etika.
Alternatif Etis: Santo Fransiskus dari Assisi
Sebagai penutup, White menawarkan figur Santo Fransiskus dari Assisi sebagai kemungkinan jalan alternatif dalam tradisi Kristen. Fransiskus dipandang sebagai tokoh yang meradikalkan relasi manusia dengan alam, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai saudara di antara sesama makhluk ciptaan. Alam dalam visi Fransiskan bukan objek dominasi, melainkan komunitas kehidupan.
Pilihan ini bukan sekadar romantisme religius, melainkan upaya White untuk menunjukkan bahwa perubahan etika ekologis harus bersifat kultural dan spiritual, bukan hanya politis atau teknis. Ia bahkan menyiratkan bahwa krisis ekologi menuntut semacam “revolusi religius” dalam cara manusia memahami posisinya di kosmos.
Signifikansi dan Kritik
Meskipun hanya berupa esai singkat, The Historical Roots of Our Ecologic Crisis memiliki pengaruh yang sangat luas. Tulisan ini sering dianggap sebagai salah satu fondasi intelektual ekoteologi modern dan etika lingkungan. Ia memicu perdebatan panjang tentang tanggung jawab agama terhadap krisis ekologis, baik dalam Kekristenan maupun agama-agama lain.
Namun, esai ini juga menuai kritik. Beberapa sarjana menilai White terlalu menyederhanakan tradisi Kristen dan mengabaikan keragaman teologis di dalamnya. Kritik lain menyebut bahwa faktor kolonialisme, kapitalisme, dan kekuasaan politik global kurang mendapat perhatian memadai. Meski demikian, justru karena sifatnya yang provokatif, esai ini berhasil membuka medan diskusi yang sebelumnya tertutup.
Penutup: Krisis Ekologi sebagai Krisis Makna
Pada akhirnya, Lynn White Jr. mengajukan sebuah tesis yang tetap relevan hingga hari ini: krisis ekologi adalah krisis makna. Selama manusia terus memandang alam semata sebagai sumber daya, solusi teknis apa pun akan bersifat tambal sulam. Dengan menelusuri akar historis dan teologis dari cara berpikir modern, esai ini mengingatkan bahwa perubahan ekologis sejati menuntut perubahan cara pandang terhadap dunia, manusia, dan yang sakral.***