Resensi Buku Islam sebagai Ilmu Karya Kuntowijoyo

Pendahuluan: Ketika Islam Menuntut Diri untuk Berpikir Ilmiah

ORBITINDONESIA.COM- Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (2025) karya Kuntowijoyo merupakan salah satu karya intelektual paling penting dalam sejarah pemikiran Islam Indonesia modern. Diterbitkan oleh Tiara Wacana untuk pertama kalinya pada tahun 2006, buku resensi ini adalah terbitan Penerbit Matabangsa Yogyakarta terbitan 2025. Buku ini bukan sekadar refleksi keislaman, melainkan manifesto epistemologis yang berani: sebuah upaya sistematis untuk menggeser Islam dari sekadar ideologi normatif dan wacana moral menuju kerangka ilmu pengetahuan yang objektif, kritis, dan transformatif.

Kuntowijoyo — sejarawan, budayawan, dan pemikir Muslim terkemuka Indonesia — menulis buku ini sebagai respons atas kegelisahan panjangnya terhadap cara umat Islam memahami agamanya sendiri. Menurutnya, Islam terlalu lama diperlakukan hanya sebagai sistem nilai, doktrin politik, atau slogan identitas, tanpa keberanian menjadikannya basis pengembangan ilmu yang dapat membaca realitas sosial secara ilmiah. Akibatnya, Islam sering hadir dalam ruang publik sebagai retorika moral yang lantang, tetapi miskin analisis struktural terhadap realitas sejarah dan sosial.

Buku ini lahir dalam konteks Indonesia pasca-Reformasi, ketika kebebasan politik membuka ruang luas bagi ekspresi Islam, namun juga melahirkan fragmentasi pemikiran: Islam politik, Islam kultural, Islam normatif, dan Islam simbolik hidup berdampingan tanpa fondasi epistemologis yang kokoh. Dalam situasi itulah Kuntowijoyo menawarkan sebuah jalan sunyi namun radikal: objektifikasi Islam melalui ilmu pengetahuan.

Isi dan Struktur Buku: Dari Normativitas ke Objektifikasi

Struktur Islam sebagai Ilmu dibangun secara konseptual dan reflektif, bukan sebagai buku teks metodologi kaku, melainkan sebagai perjalanan intelektual yang mengajak pembaca memahami transformasi cara berpikir keislaman. Kuntowijoyo memulai dengan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai “Islam normatif-ideologis” — Islam yang berhenti pada seruan moral, fatwa, dan jargon politik, tetapi gagal membaca kenyataan sosial secara sistematis.

Menurut Kuntowijoyo, Islam normatif memiliki fungsi penting sebagai penuntun nilai, namun menjadi problematis ketika ia menggantikan fungsi ilmu. Ketika realitas sosial dijelaskan semata-mata dengan ayat dan hadis tanpa analisis empiris, Islam justru kehilangan daya transformasinya. Di titik inilah Kuntowijoyo mengusulkan pergeseran paradigma: dari Islam sebagai ideologi menuju Islam sebagai ilmu.

Ia lalu memperkenalkan gagasan sentral bukunya, yaitu objektifikasi Islam. Objektifikasi berarti menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kategori-kategori ilmiah yang dapat diuji, dikritik, dan digunakan untuk membaca struktur sosial. Islam tidak lagi berhenti sebagai “ajaran yang benar”, tetapi menjadi perangkat analisis yang produktif. Dalam kerangka ini, Islam dapat melahirkan ilmu sosial profetik — ilmu yang tidak netral secara moral, tetapi tetap objektif secara metodologis.

Kuntowijoyo menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab normatif, tetapi juga sumber konseptual bagi ilmu. Kisah-kisah sejarah, struktur sosial, relasi kekuasaan, dan dinamika ekonomi yang termuat dalam Al-Qur’an dapat dibaca sebagai kategori analitis untuk memahami masyarakat. Dengan demikian, wahyu tidak dibekukan dalam teks, tetapi dihidupkan dalam pembacaan ilmiah terhadap realitas.

Analisis Epistemologis: Ilmu Sosial Profetik sebagai Jalan Tengah

Inti pemikiran Kuntowijoyo dalam buku ini adalah gagasan tentang ilmu sosial profetik. Ia mengambil inspirasi dari QS. Ali Imran ayat 110 tentang amar ma’ruf, nahi munkar, dan iman kepada Allah, lalu menerjemahkannya ke dalam tiga pilar epistemologis: humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Namun yang membedakan Kuntowijoyo dari pemikir Islam ideologis adalah caranya menempatkan ketiga nilai tersebut. Ia tidak menjadikannya slogan politik, melainkan kerangka ilmiah. Humanisasi berarti ilmu harus memanusiakan manusia; liberasi berarti ilmu harus membebaskan dari struktur penindasan; dan transendensi berarti ilmu tetap terhubung dengan nilai ilahiah tanpa jatuh ke dogmatisme.

Kuntowijoyo secara tegas menolak dua ekstrem: positivisme Barat yang mengklaim netralitas nilai, dan fundamentalisme agama yang menolak metode ilmiah. Baginya, ilmu sosial profetik adalah jalan tengah: ilmu yang menggunakan metodologi modern, tetapi diarahkan oleh nilai transenden.

Dalam bagian ini, Kuntowijoyo juga mengkritik ketergantungan intelektual dunia Islam pada teori-teori Barat tanpa proses internalisasi kritis. Ia tidak menolak teori Barat, tetapi menolak sikap imitasi. Ilmu sosial Islam, menurutnya, harus tumbuh dari pengalaman sejarah umat Islam sendiri, dari realitas masyarakatnya, dan dari teks-teks sucinya — bukan sebagai justifikasi, tetapi sebagai sumber konseptual.

Gaya penulisan Kuntowijoyo tenang, reflektif, dan argumentatif. Ia tidak menyerang, tetapi mengajak berpikir. Ia tidak berteriak revolusi, tetapi menanam benih perubahan epistemologis yang dalam dan jangka panjang.

Konteks Historis dan Posisi Intelektual

Islam sebagai Ilmu menempati posisi penting dalam tradisi pemikiran Islam Indonesia. Buku ini dapat dibaca sebagai kelanjutan dan pendalaman dari proyek intelektual Kuntowijoyo sebelumnya, terutama Paradigma Islam dan Identitas Politik Umat Islam. Jika karya-karya awalnya masih berkutat pada relasi Islam dan politik, maka buku ini menandai pergeseran ke wilayah yang lebih mendasar: epistemologi.

Dalam peta pemikiran Islam global, Kuntowijoyo berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Mohammed Arkoun, Fazlur Rahman, dan Syed Naquib al-Attas, namun dengan karakter yang khas Indonesia. Ia tidak terjebak dalam abstraksi filosofis murni, dan tidak pula tenggelam dalam aktivisme ideologis. Ia menulis sebagai ilmuwan sosial yang sadar sejarah, budaya, dan konteks masyarakatnya.

Buku ini juga menjadi kritik internal terhadap gerakan Islam modern di Indonesia yang terlalu cepat masuk ke arena politik tanpa fondasi ilmu. Bagi Kuntowijoyo, kebangkitan Islam yang sejati bukan dimulai dari perebutan kekuasaan, melainkan dari pembaruan cara berpikir.

Relevansi dan Refleksi untuk Dunia Islam Kontemporer

Di tengah maraknya politisasi agama, radikalisme identitas, dan perang narasi keislaman, Islam sebagai Ilmu justru terasa semakin relevan. Buku ini mengingatkan bahwa Islam kehilangan kekuatannya bukan karena ditekan, tetapi karena gagal berpikir secara ilmiah tentang realitasnya sendiri.

Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana agama sering hadir sebagai simbol dan alat mobilisasi massa, gagasan Kuntowijoyo menawarkan jalan pembebasan yang lebih sunyi namun lebih tahan lama: membangun tradisi ilmu. Islam yang mampu membaca ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, ketidakadilan gender, dan oligarki ekonomi bukan dengan slogan, tetapi dengan analisis struktural yang jernih.

Lebih jauh, buku ini menantang umat Islam untuk berhenti menjadi konsumen teori dan mulai menjadi produsen pengetahuan. Islam tidak lagi sekadar “dibela”, tetapi digunakan untuk memahami dan mengubah dunia.

Penutup: Dari Iman ke Ilmu, dari Retorika ke Transformasi

Melalui Islam sebagai Ilmu, Kuntowijoyo tidak sedang mereduksi agama menjadi sains, tetapi mengangkat agama ke martabat intelektual yang lebih dewasa. Ia mengajak umat Islam untuk beriman tanpa anti-intelektualisme, dan berpikir ilmiah tanpa kehilangan nilai transenden.

Buku ini adalah seruan sunyi namun mendalam: bahwa masa depan Islam tidak ditentukan oleh seberapa keras ia berteriak di ruang publik, tetapi oleh seberapa dalam ia memahami realitas dan mengubahnya dengan ilmu. Kuntowijoyo menunjukkan bahwa iman yang tidak berpikir akan mandek, dan ilmu yang tanpa nilai akan kehilangan arah.

Islam sebagai Ilmu bukan bacaan ringan, tetapi bacaan yang perlu — terutama bagi mereka yang ingin melihat Islam bukan hanya sebagai identitas, melainkan sebagai kekuatan intelektual yang membebaskan dan memanusiakan.***