Gaya Humor Kita, Cermin Kepribadian dan Kondisi Psikologis

ORBITINDONESIA.COM - Cara seseorang bercanda ternyata bukan sekadar soal lucu atau tidak lucu. Dalam psikologi, humor dipahami sebagai jendela kecil yang memperlihatkan isi batin seseorang—cara berpikir, cara memandang diri sendiri, hingga bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Psikolog Rod Martin memperkenalkan sebuah kerangka yang cukup dikenal tentang empat gaya humor, dan masing-masing gaya ini berkaitan erat dengan kepribadian serta kesehatan mental.

Humor Agresif: Tertawa di Atas Luka Orang Lain

Ada orang yang tertawa dengan cara menyengat. Candanya berupa sarkasme, ejekan, atau sindiran tajam yang diarahkan pada individu atau kelompok tertentu. Kalimat seperti “Masih miskin aja?”, “Masih jomblo?”, atau komentar tentang tubuh dan penampilan sering dibungkus dengan dalih bercanda.

Tujuan utama humor agresif bukan membangun kedekatan, melainkan meninggikan diri sendiri dengan merendahkan orang lain. Ketika hubungan menjadi rusak, pelakunya kerap berlindung di balik kalimat klasik: “Ah, lebay, cuma bercanda.”

Dalam jangka panjang, gaya ini mencerminkan rendahnya empati dan kepekaan sosial. Orang yang sering menggunakannya cenderung kurang ramah, kurang berhati-hati, dan abai terhadap dampak emosional yang ditimbulkan pada orang lain.

Humor Afiliatif: Tertawa Bersama

Berbeda dengan humor agresif, humor afiliatif justru mengajak semua orang tertawa bersama. Leluconnya ringan, bersumber dari pengalaman sehari-hari, dan tidak menjatuhkan siapa pun. Candaan tentang telat berjamaah, rapat yang lebih efektif setelah makan, atau guyonan hemat anggaran adalah contoh humor jenis ini.

Tujuan utamanya jelas: mencairkan suasana, mempererat hubungan, dan menciptakan rasa kebersamaan. Humor afiliatif membuat ruang sosial terasa aman dan inklusif. Tak ada yang merasa dipermalukan, sebaliknya orang merasa dihargai dan dilibatkan.

Mereka yang terbiasa bercanda dengan cara ini umumnya dipandang sebagai pribadi yang hangat, ramah, dan memiliki keterampilan sosial yang baik—jenis orang yang kehadirannya dirindukan dalam kelompok mana pun.

Humor Penguatan Diri: Menertawakan Hidup, Bukan Menyerah Padanya

Ada pula humor yang berfungsi sebagai mekanisme bertahan hidup. Humor penguatan diri muncul ketika seseorang mampu menertawakan situasi sulit tanpa menjatuhkan harga dirinya. Lupa dianggap kejutan, diet gagal dibingkai sebagai empati pada pedagang kecil, atau hidup yang ribet disikapi dengan tawa agar tidak semakin berat.

Humor jenis ini menunjukkan ketahanan mental dan perspektif yang sehat. Orang yang menggunakannya biasanya memiliki tingkat stres lebih rendah dan mampu menjaga keseimbangan emosional di tengah tekanan hidup.

Humor Merendahkan Diri: Tertawa yang Menyakiti Diri Sendiri

Sekilas terlihat rendah hati, tetapi sesungguhnya berbahaya. Humor merendahkan diri menjadikan diri sendiri sebagai sasaran ejekan berlebihan demi diterima orang lain. Kalimat seperti “Otak gue low-budget” atau “Aku memang ditakdirkan jadi karpet” mungkin membuat orang tertawa, tetapi pelakunya sedang melukai dirinya sendiri secara psikologis.

Humor ini sering dipakai sebagai tameng—agar ejekan datang dari diri sendiri lebih dulu, bukan dari orang lain. Namun dalam jangka panjang, gaya ini justru memperkuat rasa rendah diri, membuka pintu bagi penghinaan lanjutan, dan berkaitan dengan kecemasan, depresi, serta kurangnya kepercayaan diri.

Humor sebagai Cermin Kualitas Diri

Humor bukan soal profesi, bukan pula ukuran kecerdasan. Ia adalah indikator psikologis. Dari humor, kita bisa menangkap apakah seseorang lebih condong pada welas asih atau kekejian, kepedulian atau penghancuran, sisi “malaikat” atau “iblis” dalam dirinya.

Karena itu, siapa pun—pejabat publik maupun pelawak—sebenarnya bisa “dibaca” dari caranya bercanda. Gaya humor memperlihatkan kualitas batin, tingkat empati, dan bahkan ketidakberesan emosional yang mungkin tersembunyi di balik tawa.

Pada akhirnya, tawa memang ringan, tetapi cara kita tertawa tidak pernah netral. Di sanalah kualitas diri diam-diam berbicara. ***