Denny JA: Mengapa Ekonomi China Bisa Tumbuh di Atas 8% Selama Tiga Dekade, 1979-2010?

ORBITINDONESIA.COM - Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (1)

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Pada suatu pagi musim dingin tahun 1978, di sebuah desa miskin bernama Xiaogang, Provinsi Anhui. Seorang petani bernama Yan Jinchang mengikat tali sepatunya dengan tangan gemetar. 

Sepatu itu bukan sepatu baru. Solnya tipis, nyaris robek. Namun bukan dingin yang membuat tangannya bergetar, melainkan ketakutan.

Di dalam rumah lumpur, delapan belas kepala keluarga berkumpul diam-diam. Mereka menandatangani sebuah perjanjian rahasia. 

Isinya sederhana, tetapi berbahaya: mereka sepakat membagi tanah kolektif desa menjadi petak-petak kecil, masing-masing dikelola keluarga sendiri. Hasil panen disetor ke negara sesuai kewajiban. Sisanya, jika ada, boleh mereka makan.

Perjanjian itu melanggar hukum Republik Rakyat China saat itu. Jika ketahuan, hukuman penjara bahkan hukuman mati bukan mustahil. 

Karena itu mereka menambahkan satu kalimat di bawah perjanjian: jika salah satu dipenjara atau mati, anak-anaknya akan diurus bersama.

Tak ada kamera. Tak ada pidato. Tak ada slogan revolusi. Hanya kertas lusuh dan ketakutan sunyi.

Namun dari tindakan kecil, nyaris tak terdengar ini, sebuah revolusi besar akan dimulai. Bukan revolusi senjata. Bukan revolusi slogan. Melainkan revolusi insentif.

Beberapa bulan kemudian, hasil panen desa Xiaogang melonjak drastis. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, para petani kenyang. 

Negara terkejut. Partai bingung. Sejarah sedang mengetuk pintu, pelan tapi pasti.

-000-

I. Warisan Luka: Ekonomi China Pasca Mao

Untuk memahami bagaimana negara komunis bisa memicu pertumbuhan kapitalistik ekstrem, kita harus berani menatap luka masa lalu.

Ketika Mao Zedong wafat pada 1976, China bukanlah negeri yang bangkit, melainkan negeri yang kelelahan. Dua eksperimen ideologis besar Mao meninggalkan trauma mendalam.

Pertama, Great Leap Forward (1958–1961). Dengan semangat mengalahkan Barat, Mao memaksa kolektivisasi ekstrem dan industrialisasi instan. 

Petani disuruh membuat baja di halaman rumah. Sawah ditinggalkan. Produksi pangan runtuh. Kelaparan besar terjadi. 

Sejarawan memperkirakan 30 hingga 45 juta jiwa tewas, salah satu bencana buatan manusia terbesar dalam sejarah.

Kedua, Revolusi Kebudayaan (1966–1976). Atas nama kemurnian ideologi, sekolah ditutup, intelektual dikejar, pengetahuan dicurigai. Ekonomi lumpuh. Generasi muda kehilangan pendidikan. Kepercayaan sosial runtuh.

Cina keluar dari era Mao bukan sebagai raksasa ideologis, tetapi sebagai negara miskin dengan PDB per kapita di bawah banyak negara Afrika. 

Sistem kolektif memang menjanjikan kesetaraan, tetapi yang dibagi rata adalah kemiskinan.

Pertanyaannya bukan lagi: bagaimana setia pada ideologi?
Pertanyaannya menjadi lebih mendasar: bagaimana memberi makan rakyat?

-000-

II. Deng Xiaoping dan Keberanian Mengkhianati Dogma

Deng Xiaoping bukan filsuf ideologi. Ia bukan orator karismatik. Tubuhnya kecil. Suaranya pelan. 

Tetapi ia memiliki satu keberanian yang langka dalam sejarah revolusi: keberanian meninggalkan dogma demi kenyataan.

Kalimatnya yang paling terkenal sederhana dan nyaris banal:

“Tidak peduli kucing hitam atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus.”

Di balik kesederhanaan itu tersembunyi revolusi pemikiran. Deng memisahkan tujuan dari alat. Tujuan sosialisme, baginya, adalah kesejahteraan rakyat. Jika pasar bisa membantu, mengapa harus ditolak?

Ini bukan penolakan terhadap komunisme secara frontal. Deng terlalu cerdas untuk itu. Ia memilih jalan yang lebih halus: redefinisi.

Ia memperkenalkan istilah baru: socialism with Chinese characteristics. Sebuah payung ideologis yang lentur, cukup longgar untuk menampung eksperimen pasar, tetapi cukup merah untuk menjaga legitimasi Partai.

Di sinilah filsafat politik bekerja: bukan dengan menumbangkan bangunan lama, melainkan dengan menggeser fondasinya perlahan.

-000-

III. Revolusi Tanpa Deklarasi: Sistem Dua Jalur

Reformasi ekonomi China bukanlah lompatan satu langkah. Ia bergerak melalui apa yang disebut para ekonom sebagai dual-track system.

Secara sederhana, sistem ini berarti: negara dan pasar berjalan berdampingan.

Di satu jalur, sektor negara tetap ada. Harga resmi masih ditetapkan. Kuota produksi masih berlaku.

Di jalur lain, pasar mulai diberi ruang. Petani dan produsen boleh menjual kelebihan produksi di pasar bebas dengan harga pasar.

Inilah kecerdikan Deng. Ia tidak menghancurkan sistem lama. Ia membiarkannya hidup, sambil membiarkan sistem baru tumbuh di sampingnya. 

Ketika sistem pasar terbukti lebih produktif, ia perlahan membesar. Sistem lama mengecil dengan sendirinya, tanpa perlu konflik ideologis terbuka.

Transisi ini menghindari kejutan politik. Tidak ada nasionalisasi balik. Tidak ada terapi kejut seperti di Uni Soviet pasca runtuh. China memilih evolusi, bukan revolusi ulang.

-000-

IV. Shenzhen: Dari Desa Nelayan ke Simbol Dunia

Jika Xiaogang adalah bisikan, Shenzhen adalah teriakan.

Pada 1980, Deng menetapkan Shenzhen sebagai Zona Ekonomi Khusus. Saat itu Shenzhen hanyalah desa nelayan miskin di perbatasan Hong Kong. 

Keputusan ini tampak aneh. Mengapa daerah kecil, bukan Beijing atau Shanghai?

Justru karena kecil, Shenzhen mudah diuji. Jika gagal, kerugiannya terbatas. Jika berhasil, bisa ditiru.

Di Shenzhen, aturan lama dilonggarkan. Investasi asing diizinkan. Upah fleksibel. Kontrak kerja diperbolehkan. Kepemilikan asing tidak lagi tabu.

Dalam satu dekade, Shenzhen tumbuh dengan kecepatan yang mencengangkan. Gedung menjulang. Pabrik berdiri. Jutaan tenaga kerja desa mengalir ke kota.

Zona ini menjadi laboratorium kapitalisme di negara komunis.

Namun penting dicatat: pasar di Shenzhen tidak liar. Negara tetap hadir. Tanah tetap milik negara. Arah industri tetap dikendalikan. 

Cina tidak menyerahkan ekonomi pada pasar, tetapi menggunakan pasar sebagai alat negara.

Inilah perbedaan mendasar dengan neoliberalisme Barat.

-000-

V. Desa, Industri Ringan, dan Ledakan dari Bawah

Keajaiban ekonomi China tidak dimulai dari kota besar, tetapi dari desa.

Reformasi pertanian melalui Household Responsibility System mengembalikan insentif pada keluarga. Produksi pangan melonjak. Pendapatan desa naik. Untuk pertama kalinya sejak lama, desa memiliki surplus.

Surplus ini tidak disimpan. Ia diinvestasikan.

Muncullah Township and Village Enterprises (TVEs), industri kecil dan menengah milik kolektif desa. Mereka memproduksi barang sederhana: pakaian, sepatu, alat rumah tangga.

Ini bukan industri berat. Ini bukan teknologi tinggi. Tetapi ia menyerap tenaga kerja masif, menggunakan keterampilan sederhana, dan memenuhi pasar domestik yang besar.

Dari perspektif ekonomi pembangunan, inilah momen krusial. Cina menghindari kesalahan banyak negara berkembang yang langsung mengejar industri berat tanpa basis tenaga kerja terampil. Cina memulai dari yang paling dekat dengan rakyat.

Surplus tenaga kerja desa, yang di banyak negara menjadi beban, di Cina menjadi bahan bakar pertumbuhan.

-000-

VI. Ideologi yang Menunduk pada Realitas

Bagaimana mungkin semua ini terjadi tanpa runtuhnya Partai Komunis?

Jawabannya terletak pada satu prinsip: ideologi menyesuaikan diri pada realitas, bukan sebaliknya.

Partai tidak mengaku salah. Ia mengaku belajar. Kesuksesan ekonomi dijadikan legitimasi politik baru. Jika Mao menawarkan utopia ideologis, Deng menawarkan stabilitas dan pertumbuhan.

Dalam filsafat politik, ini disebut performance legitimacy. Rakyat mungkin tidak memilih, tetapi mereka menilai. Selama hidup membaik, legitimasi bertahan.

Namun ada harga yang dibayar. Ketimpangan mulai tumbuh. Desa tertinggal dari kota. Buruh bekerja panjang dengan perlindungan minim. Lingkungan dikorbankan.

Cina memilih urutan: pertumbuhan dulu, keadilan kemudian.

Apakah pilihan ini benar? Sejarah belum selesai menjawabnya.

-000-

VII. Refleksi Filosofis: Revolusi yang Diam

Revolusi ekonomi Cina adalah revolusi yang sunyi. Ia tidak merayakan kebebasan individu seperti Barat. Ia tidak mengagungkan kesetaraan mutlak seperti sosialisme klasik.

Ia adalah kompromi besar antara negara dan pasar, antara ideologi dan perut, antara kontrol dan insentif.

Pelajarannya bukan bahwa kapitalisme menang atas komunisme. Pelajarannya lebih subtil: manusia merespons insentif lebih cepat daripada slogan.

Dari Xiaogang hingga Shenzhen, dari petani miskin hingga buruh migran, revolusi ini bergerak dari bawah ke atas, meski diarahkan dari atas ke bawah.

Dan di sanalah paradoksnya: negara komunis memicu pertumbuhan kapitalistik ekstrem bukan dengan meninggalkan negara, tetapi dengan menjadikannya arsitek pasar.

-000-

Penutup: Pertanyaan untuk Dunia Berkembang

China tumbuh di atas 8 persen selama lebih dari tiga dekade, dari akhir 1970-an hingga awal 2010-an. Itu bukan kebetulan. Itu hasil desain, keberanian politik, dan kesediaan membayar harga sosial.

Namun tidak semua pelajaran bisa ditiru. Setiap negara memiliki sejarah, budaya, dan struktur politik sendiri.

Yang bisa dipetik bukan resep, melainkan prinsip:
keberanian mengakui kegagalan, kesediaan bereksperimen, dan kebijaksanaan membedakan tujuan dari alat.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah kita komunis atau kapitalis.
Pertanyaannya lebih sunyi, tetapi lebih menentukan:

Apakah sistem yang kita pilih benar-benar memberi manusia kesempatan hidup yang lebih layak?

Di desa kecil Xiaogang, sepasang sepatu lusuh telah menjawabnya dengan caranya sendiri.*

Jakarta, 2 Januari 2026

REFERENSI

1. How China Became Capitalist

Penulis: Ronald H. Coase & Ning Wang
Penerbit: Palgrave Macmillan
Tahun Terbit: 2012

2. The China Miracle: Development Strategy and Economic Reform

Penulis: Justin Yifu Lin
Penerbit: Chinese University Press
Tahun Terbit: 1994 (edisi revisi tersedia)

-000-

Ratusan esai karya Denny JA tentang filsafat hidup, ekonomi politik, sastra, minyak dan energi, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, psikologi positif, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat ditemukan di Facebook: Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/p/1A1s2GwChA/?mibextid=wwXIfr