Supriyanto Martosuwito: Prabowo Berubah, Saya Berubah

ORBITINDONESIA.COM - Saya pernah berada di barisan orang yang menolak Prabowo Subianto menjadi Presiden Republik Indonesia. Pilihan politik saya pada masa itu sederhana: saya memilih Jokowi bukan karena saya kader atau pengagum Jokowi, tetapi karena saya menolak memilih Prabowo. Masa lalu politiknya, gaya komunikasinya yang keras, dan kegelisahan publik tentang rekam jejaknya membuat saya mengambil jarak. Saya pikir, waktu itu, itulah keputusan paling rasional.

Itu terjadi pada Pilpres 2014 dan 2019 lalu.

Tetapi politik - seperti hidup - bekerja dengan cara yang tidak selalu linear. Seseorang dapat berubah, dan perubahan itu bisa terjadi ketika ia masuk pada ruang tanggung jawab baru yang memaksanya beradaptasi.

Saya menyaksikan sendiri perubahan itu pada diri Prabowo, dan perjalanan inilah yang menggerakkan refleksi saya: kalau Prabowo bisa berubah, mengapa saya tidak boleh mengubah pandangan saya?

Ketika Jokowi menang untuk periode kedua, ia mengambil langkah berani yang sempat membuat banyak pendukungnya terkejut: ia merangkul Prabowo dan memberinya posisi Menhan. Banyak yang melihat itu sebagai langkah pragmatis, sebagian lagi menyorotnya sebagai politik rekonsiliasi. Saya sendiri was-was. Prabowo yang saya lihat bertahun-tahun sebelumnya adalah sosok berapi-api, retoris, sering meledak, dan tampak jauh dari pola kerja birokrasi yang tenang.

Namun waktu membuktikan bahwa kekhawatiran saya tidak sepenuhnya tepat. Prabowo bekerja dengan disiplin, tanpa friksi politik yang berarti dengan Presiden. Ia loyal, menjalankan perintah, dan menerima garis kebijakan Jokowi dengan konsistensi yang justru tak pernah ditampilkan sebagian menteri lain. Di titik ini, saya melihat transformasi yang tidak bisa saya abaikan.

Ilmu politik menempatkan fenomena seperti ini dalam kerangka yang cukup mapan. Richard Samuels menyebut bahwa lembaga negara—institusi yang matang dan memiliki kultur operasional kuat dapat “mendewasakan” bahkan menenangkan karakter elite.

Tekanan jabatan, mekanisme akuntabilitas, dan kebutuhan menjaga stabilitas memaksa seorang politisi menyesuaikan diri. Guillermo O’Donnell punya istilah lain: “adaptive pressure”, tekanan demokratis yang membuat seorang pemimpin tak bisa bertindak seperti sebelum ia masuk ke sistem.

Dalam konteks Indonesia, Prabowo masuk ke sebuah institusi besar: Kementerian Pertahanan. Di sana, ia bukan hanya pejabat politik; ia kembali ke habitat lamanya, ke dunia yang membesarkannya. Kembali dikeliling prajurit, dunia lamanya.

Banyak pengamat militer, termasuk akademisi dari UI dan UGM, mencatat bahwa selama menjabat Menhan, Prabowo benar-benar memulihkan hubungannya dengan TNI. Ia hadir dalam perayaan militer, merangkul generasi baru perwira, dan diterima kembali sebagai bagian dari keluarga institusi itu.

Ini bukan proses sederhana. Penerimaan institusi terhadap seseorang adalah indikator yang kuat: bahwa ia telah membangun ulang kepercayaan.

Yang juga signifikan adalah peran Jokowi. Di sini, teori “reconciliation politics” dari Archie Brown dan Francis Fukuyama terasa relevan. Pemimpin yang mampu merangkul rival politik dan menempatkannya kembali dalam struktur negara sering menciptakan transformasi yang stabil, bukan instan.

Presiden Jokowi tidak hanya berhasil merangkul Prabowo, Jokowi juga memulihkan martabatnya. Ia menempatkan Prabowo dalam peran yang membuatnya kembali berdiri di tengah prajurit, bukan di pinggir politik. Pengakuan martabat seperti ini - dalam politik mana pun - memiliki daya transformatif yang besar.

Perubahan Prabowo bukan hanya dalam gaya dan gestur, tetapi juga dalam pilihan kebijakan. Ia mulai berbicara tentang hal-hal yang lebih membumi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, bukan sekadar janji kampanye, tetapi gagasan struktural yang menyasar masalah mendasar: gizi, stunting, kesehatan anak, dan ketimpangan sosial.

Banyak akademisi IPB dan UI menyambut konsep ini sebagai “intervensi negara yang diperlukan” untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Di level yang lebih simbolis, tetapi tidak kalah penting, ada program 5.000 becak listrik gratis untuk para penarik becak lansia. Ini bukan proyek besar dari sisi anggaran, tetapi besar dari sisi kemanusiaan. Kebijakan seperti ini menandai orientasi sosial yang lebih empatik—jauh dari citra Prabowo masa lalu yang sering diasosiasikan dengan ketegasan tanpa kompromi.

Semua itu terjadi seiring perubahan persepsi publik. Sejak 2021, hampir semua lembaga survei kredibel menunjukkan tren yang sama: sentimen negatif terhadap Prabowo menurun, sementara persepsi mengenai ketenangan, kedewasaan politik, dan kemampuan memimpin meningkat.

Bahkan banyak analis yang sebelumnya kritis mulai mengakui bahwa Prabowo “lebih moderat dan lebih matang” dibandingkan dirinya pada 2014 atau 2019.

Saat memasuki Pemilu 2024 lalu, sebenarnya siap menerima Ganjar Pranowo bila ia menjadi pasangan Prabowo. Tetapi PDIP - dengan perhitungan politiknya sendiri - mengambil jalan berbeda: mereka menentukan Ganjar sebagai calon presiden dan Ganjar menolak menjadi calon wakil presiden.

Ego politik itu menjadi bumerang. Prabowo kemudian maju, didukung Jokowi, dan rakyat pun memberikan legitimasi langsung—satu putaran. Bagi saya, ini bukan semata soal Jokowi effect, tetapi juga bukti bahwa publik melihat perubahan nyata dalam diri Prabowo.

Dan di sini letak refleksi saya: Prabowo berubah, dan saya ikut berubah. Ini bukan perubahan tanpa dasar. Ini perubahan yang dibangun dari pengamatan, analisis, pengalaman, dan data.

Demokrasi memberi ruang bagi perubahan manusia, dan menjadi tidak adil bila kita menilai seorang pemimpin hanya dari masa lalunya, sementara hari ini ia menunjukkan karakter berbeda, tanggung jawab berbeda, dan kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat.

Pada akhirnya, saya mendukung Prabowo bukan karena saya berubah menjadi penggemarnya, tetapi karena ia sendiri berubah menjadi pemimpin yang saya bisa percaya.

Dalam politik, perubahan pemimpin dan perubahan pandangan warga adalah dua hal yang saling meneguhkan. Dan dalam hal ini, keduanya berjalan beriringan.

Prabowo berubah, saya berubah : Dan itu, menurut saya, adalah bentuk kedewasaan yang wajar dalam demokrasi. ***