Budaya Kerja 996: Antara Ambisi dan Kehancuran
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja 996, bekerja 12 jam sehari selama enam hari seminggu, menyebar dari China ke Amerika Serikat, memicu perdebatan tentang dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja.
Budaya kerja 996 pertama kali muncul di China, terkenal dengan jam kerja panjang di industri teknologi yang menuntut kinerja tinggi. Meskipun telah dilarang oleh pemerintah China sejak 2021, praktik ini tetap bertahan dan kini menginspirasi beberapa perusahaan di Amerika Serikat, terutama di Silicon Valley, untuk mengadopsi budaya kerja serupa.
Munculnya tren 996 di AS terkait dengan meningkatnya tekanan untuk bersaing di pasar global, terutama di sektor teknologi dan startup. Data menunjukkan bahwa banyak perusahaan AI mengharapkan karyawan bekerja dengan pola ini, dan beberapa bahkan menawarkan insentif finansial untuk menarik pekerja. Namun, ini datang dengan biaya kesehatan mental yang signifikan, di mana kelelahan kerja dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, seperti yang dialami ekonomi Inggris sekitar £57,4 miliar setiap tahun.
Sebagian pihak berpendapat bahwa bekerja keras adalah kunci sukses, namun kritik menyebutkan bahwa ini adalah eksploitasi tenaga kerja. Beberapa perusahaan seperti Fella & Delilah menawarkan kenaikan gaji untuk karyawan yang setuju dengan jadwal ekstrem ini, tetapi pada akhirnya, apa gunanya uang jika tidak ada waktu untuk menikmatinya? Elon Musk, misalnya, telah mempromosikan budaya kerja intens yang serupa di perusahaannya, memicu diskusi tentang batasan etis dalam dunia kerja modern.
Di era di mana fleksibilitas kerja sedang dipromosikan, adopsi budaya 996 tampak seperti langkah mundur. Mungkinkah kita harus menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, bukan menambah beban kerja? Pertanyaan ini perlu dijawab agar kesejahteraan pekerja tidak terabaikan demi keuntungan ekonomi.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Oktober 2025)