Film Mahal Penuh Ambisi: Keunikan di Balik One Battle After Another

ORBITINDONESIA.COM – Paul Thomas Anderson kembali dengan film termahalnya, One Battle After Another, yang ditulis menggunakan Microsoft Word, meski mengaku program tersebut adalah 'program terburuk di dunia'.

Paul Thomas Anderson dikenal dengan gaya khasnya dalam menulis skenario film. Meskipun di era digital ini banyak penulis beralih ke software canggih seperti Final Draft, Anderson tetap setia menggunakan Microsoft Word. Keputusan ini mencerminkan pendekatan old-school yang juga terlihat dalam kebanyakan karyanya yang berupa drama periode.

One Battle After Another telah melalui proses penulisan selama dua dekade, dengan draft awal mencapai 600 halaman. Film ini memakan biaya sekitar $150 juta, yang setara dengan gabungan biaya lima film sebelumnya. Dengan narasi yang penuh aksi, film ini menggabungkan ide dari beberapa proyek sebelumnya, termasuk adaptasi dari novel Vineland karya Thomas Pynchon.

Anderson menggambarkan film ini tidak berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya, meski dengan skala yang lebih besar. Dia mengandalkan tim inti yang sama dan menekankan pentingnya lokasi yang tepat serta kesan keintiman dalam setiap adegan. Kehadiran Chase Infiniti sebagai Willa memberikan energi baru yang diakui Anderson sangat penting untuk keseluruhan cerita.

Melalui One Battle After Another, Anderson tidak hanya menantang diri sendiri dalam hal produksi, tetapi juga mengajak penonton merenungkan bagaimana cara pembuatan film dapat mempengaruhi hasil akhir. Apakah kesetiaan pada metode tradisional masih relevan di tengah kemajuan teknologi? Ini adalah pertanyaan yang mungkin akan terus dijelajahi oleh Anderson dalam karya-karya berikutnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 September 2025)