Mengupas Budaya Kerja Ekstrem di Startup: Antara Ambisi dan Burnout

ORBITINDONESIA.COM – Pranav Mehta, seorang insinyur perangkat lunak dari Himachal Pradesh, memicu perdebatan panas di media sosial setelah mendukung pekan kerja 72 jam di perusahaan teknologi AS.

Pernyataan Mehta muncul setelah CEO Mercor mengumumkan pertumbuhan pesat perusahaan mereka. Mehta menyebutkan bahwa kerja intensif membawa pembelajaran dan energi yang sulit ditandingi jadwal kerja 40 jam. Namun, pandangannya ini memecah opini publik.

Pendukung budaya kerja ekstrem melihatnya sebagai kesempatan belajar dan kontribusi signifikan. Namun, kritik menyoroti risiko kelelahan dan glorifikasi budaya kerja beracun. Ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara ambisi dan kesejahteraan di dunia startup.

Diskusi ini bukan hanya tentang jam kerja, tetapi juga tentang nilai dan batas personal. Apakah dedikasi ini merupakan pengorbanan yang layak atau sekadar kebodohan? Setiap individu dan perusahaan perlu menilai kembali batas antara kerja keras dan kesehatan mental.

Budaya kerja ekstrem terus menjadi perdebatan panas. Apakah ini bentuk ambisi atau justru menuju kehancuran? Pertanyaan ini tetap relevan dan menantang semua pihak untuk merenungkan efektivitas dan dampaknya pada kehidupan pribadi.

(Orbit dari berbagai sumber, 22 September 2025)