DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Menghilangkan Rasa Dahaga di Malaka

image
Para pelajar SMA Plus Santo Albertus membentangkan spanduk ungkapan syukur atas instalasi air siap minum di lingkungan sekolah di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Senin (18/12/2023). (Antara/Devi Nindy)

"Wa hemu sosa hai Ti'an" tulah tulisan pada karton yang dibentangkan para pelajar SMA Plus Santo Albertus, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, yang artinya "Air Kini tak Beli Lagi."

Cuaca yang panas terik, ditambah menghadapi fenomena El Nino, memang membuat wilayah yang berbatasan dengan negara Timor Leste tersebut sulit mendapatkan air bersih, maupun air siap konsumsi.

Yohanes Kelvin Akoit (18) adalah siswa Kelas 3 SMA Plus St Albertus, yang membentangkan tulisan tersebut saat peresmian Instalasi Pengelolaan Air Terpadu di Malaka, Senin (18/12). Tulisan pada kertas karton itu merupakan wujud syukur setelah Kementerian Sosial (Kemensos) memasang mesin pengelola air, Reverse Osmosis (RO). Teknologi RO tersebut mampu mengubah air sumur menjadi siap minum.

Sebelumnya, untuk menghilangkan dahaga saja, Kelvin dan teman-temannya harus merogoh Rp500 untuk membeli 1 gelas air mineral berisi 240 ml. Kebutuhan air minum semakin besar, saat harus menghadapi cuaca panas di tengah pembelajaran.

Dulu mereka harus memberi air minum, apalagi cuaca di Malaka sangat panas sehingga mereka bisa menghabiskan 4 dus di sekolah dalam satu hari.
?
Dengan bantuan tersebut, Kelvin berharap ia dan teman-temannya bisa menghemat pengeluaran untuk membeli air minum, sekaligus bisa membawa botol air untuk diisi.

Wajah penuh harapan para pelajar SMA Plus St Albertus juga semakin ceria dengan kedatangan Menteri Sosial Tri Rismaharini, yang mencicipi langsung air siap minum dari instalasi pengelolaan air RO tersebut.

Mensos Risma mengungkap perhatiannya pada kebutuhan air bersih bagi pertumbuhan anak.

Di beberapa daerah, Mensos menemukan banyak warga dalam satu komunitas yang disabilitas. Setelah ditelusuri, ternyata sumber air yang dikonsumsi mengandung logam dan bakteri.

Sementara di Malaka, sumber air cukup bersih, artinya tidak banyak mengandung zat berbahaya. Untuk di sekolah, Mensos secara khusus memasang RO agar anak-anak bisa langsung mengonsumsi air bersih.

"Kenapa air siap minum kalau di sekolah? Karena seringkali anak-anak tidak membawa bekal. Maka air ini bisa langsung siap diminum, sehingga anak-anak tidak perlu membawa bekal atau meminta uang saku untuk membeli minum karena haus," kata Mensos.

Kemensos memasang 18 instalasi pengolahan air terpadu siap minum di 18 titik, termasuk di sekolah tersebut. Instalasi pengolah air lainnya dipasang di gereja, mesjid, sekolah, dan perkampungan di Kabupaten Malaka.

RO berkapasitas 1.500 liter dipasang di 15 titik, kapasitas 3.000 liter di 1 titik, dan kapasitas 6.000 liter di 2 titik.

Sulit air yang dihadapi warga Malaka, rupanya berdampak pada hilangnya pekerjaan yang bisa dilakukan di daerah itu.

Hingga akhirnya, kebanyakan masyarakat setempat memilih bekerja secara ilegal di luar negeri.

Mensos Risma menyampaikan bahwa pemerintah menjalankan program pemberdayaan di daerah perbatasan, tertinggal, terpencil, dan terluar, guna mencegah warga menempuh jalan ilegal untuk bekerja di luar negeri dan menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Seiring penilaian bantuan untuk warga yang terdampak Badai Seroja di tahun 2021, ia menemukan banyak masyarakat Malaka menjadi korban TPPO.

Kementerian Sosial (Kemensos) juga membangun instalasi air bersih untuk menginisiasi pemberdayaan warga di Jalan Betun Perbatasan, Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Langkah itu merupakan salah satu cara menginisiasi pemberdayaan masyarakat secara komprehensif di wilayah yang sulit air.

Lahan-lahan di Malaka terbilang luas dan subur untuk dimaksimalkan dalam usaha tani, namun ketidaktersediaan air menjadi masalah.

Mensos Risma juga mengatakan hal ini bukan pertama kalinya ia menangani sulit air bersih di NTT.

Di beberapa daerah sumber air bersih tidak terlalu dalam, dan kualitas airnya bagus, namun lain cerita untuk wilayah Malaka. Sebab sebagian besar tanahnya berbatu-batu, sehingga dibutuhkan penanganan khusus dan biaya.

Kemensos sering mendapat laporan bahwa ada masyarakat NTT yang harus membeli air hingga menghabiskan Rp700 ribu per bulan.

Selain itu, ada sekelompok mama-mama yang harus menyeberang pulau untuk mendapatkan air tawar.

Kondisi tersebut sudah tertangani, walau memang membutuhkan anggaran yang cukup besar, sementara anggaran di Kemensos terbatas.

Sehingga, dalam menghadapi El Nino yang masih bertahan di tahun 2024, Kemensos tetap berupaya membantu wilayah-wilayah sulit air.

Bupati Malaka Simon Nahak mengapresiasi bantuan yang diterima dari Kemensos berupa 20 unit rumah sejahtera terpadu (RST) serta bantuan pemberdayaan masyarakat Malaka.

Selain itu, Pemkab Malaka mengucapkan terima kasih karena warganya yang menjadi korban TPPO sudah dibekali kemampuan wirausaha oleh Sentra Efata Kupang.

Mensos berpesan, kalau boleh jangan tinggalkan daerah, karena tanah Malaka adalah tanah surga. Potensi yang luar biasa ada di wilayah itu.

Dari bantuan bibit yang diberikan Kemensos, pemkab terinspirasi untuk membuat program 3K atau kebun, kandang, kolam, yang sangat simpel dan tidak butuh banyak biaya.

Instalasi pengelolaan air terpadu yang disediakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, tak hanya memberikan kemudahan akses langsung pada masyarakat, tetapi juga memberdayakan masyarakat dalam menghadapi tantangan sulit air.

Melalui upaya pemberdayaan dan bantuan yang diberikan, Kemensos tidak hanya menghilangkan dahaga fisik, tetapi juga membuka peluang bagi warga Malaka untuk meraih kesejahteraan dan mengoptimalkan potensi wilayah mereka.

Dalam menghadapi kendala El Nino yang masih terus berlanjut, upaya Kemensos untuk membantu daerah-daerah sulit air tetap menjadi komitmen dalam mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat.***
 

Sumber: Antara

Berita Terkait