DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Seberapa Besar Pengaruh Demonstrasi Tiananmen di China Pada Gerakan Mahasiswa 1998 di Jakarta

image
Pillar of Shame, Tugu Peringatan Tragedi Lapangan Tiananmen Dibongkar Universitas Hongkong. Apakah gerakan mahasiswa 1998 terinspirasi gerakan mahasiswa di Tiananmen?

ORBITINDONESIA.COM - Seberapa besar pengaruh demonstrasi mahasiswa di lapangan Tiananmen China pada gerakan mahasiswa 1998 di Jakarta, yang menjatuhkan Soeharto?

Ada klaim bahwa kedua demonstrasi dan gerakan mahasiswa itu terlalu jauh. Tidak layak dibandingkan. Bisa jadi, intensi dan jenis gerakannya juga berbeda. Tapi ada cerita sedikit mengenai itu.

Saat suasana gerakan mahasiswa tahun 1997-1998 semakin hangat, muncul banyak tafsiran mengenai apa yang sedang mereka kerjakan. Maklum, sok tahu. Suasana inipun tidak berdiri sendiri.

Baca Juga: Bocoran Harga Tiket Pertandingan Timnas Indonesia vs Argentina di FIFA Matchday, Lebih Mahal Karena Ada Ini...

Suasana gerakan masyarakat sipil dan gerakan mahasiswa banyak dipengaruhi oleh preseden dan warisan dari peristiwa besar sebelumnya.

Untuk Jabodetabek, peristiwa semacam penggusuran, pembasmian becak, dan pemogokan PT. Gajah Tunggal memberi semacam inspirasi mengenai “mahluk apakah Orde Baru itu?

Sedikit miopik, suasana ini mungkin unik Jabodetabek, sedangkan di berbagai wilayah di Indonesia punya suasana lain.

Namun, pengaruh gerakan masyarakat sipil dan gerakan mahasiswa dari berbagai daerah memberikan inspirasi mengenai cara pandang gerakan di Jakarta mengenai Orde Baru, setidaknya sejauh yang saya tahu. Banyak kejadian terkait itu. Jadi, sedikit saya memahami (sekarang) bahwa situasi “miopik’ itu ada latarnya.

Baca Juga: Sering Minta Uang di Jalanan, Manusia Silver di Jember Kepergok Naik Moge! Begini Penjelasan Polisi

Nah, dalam situasi sedemikian, ada tulisan dari seorang sinolog, Dr. I. Wibowo, SJ, mengenai demonstrasi Tiananmen 1989. Ini sebuah demonstrasi besar yang muncul dari barisan hormat mahasiswa China saat meninggalnya Hu Yaobang (sSekretaris PKC).

Pada saat yang sama, ada film dokumenter mengenai Tiananmen 1989. Tulisan I. Wibowo mempunyai sudut pandang yang berbeda dari film dokumenter tersebut.

Ada bahasan “mengapa demonstasi itu gagal?” (sic), dan itu dijawab “salah satunya karena demonstran Beijing menolak dukungan demonstran dari daerah-daerah lain”.

Bagi suasana miopia waktu itu, tulisan ini dirasa keras. Karena ditulis oleh seorang sinolog, yang pernah hidup di China, tulisan ini dirasa legitimate.

Baca Juga: Keaslian Pribadi: Semua Orang Bisa Berdusta

Pintu kantor I. Wibowo di STF Driyarkara dipasang plakat nama dalam tulisan Cina, kata I. Wibowo, “itu artinya, kantor ketua partai”. Karena banyak jalan-jalan di berbagai daerah di Tiongkok, amat masuk akal dia mendapat plakat itu.

Pemasangan plakat itu dimaksudkan sebagai joke, namun, juga sebagai tanda penguasaan I. Wibowo atas “sinosphere”.

Saya sempat menulis mengenai dinamika desa di Cina, berasal dari buku “Chen Village, recent history of a peasant community in Mao’s China” (1984), tulisan Richard Madsen, yang jelas membutuhkan I. Wibowo sebagai contrompller.

Tulisan ini beredar dari tangan ke tangan. Message-nya cukup jelas: jangan songong.

Baca Juga: Catat, 10 Ucapan Terbaik Peringatan Hari Skizofrenia Sedunia 2023, Penuh Dukungan Cocok untuk Status WhatsApp

Apakah itu kemudian terhubung dengan hasil-hasil dari gerakan mahasiswa 1998, who knows. Tapi setidaknya, tulisan itu menjadi kontrol efektif terhadap potensi konflik tak jelas.

Saya sendiri sudah tidak pegang copy-nya. Bagi siapapun yang masih memegang copy-nya, berbahagialah kamu, memegang salah satu tulisan I. Wibowo mengenai China.

*Oleh: HTS, Ketua Senat Mahasiswa STF Driyarkara 1997-1998/ Forkot 1997-1998/
Kerja Riset Analisis Driyarkara (KERAD). ***

Berita Terkait