Menyimpan Kisah Bencana Sumatra di Dalam Puisi
ORBITINDONESIA.COM - MENYIMPAN KISAH BENCANA SUMATRA DI DALAM PUISI
- Pengantar Buku Puisi Esai ke-8 Denny JA: Atas Nama Bencana, 2026
Oleh Tim CBI
Suatu malam, seorang pemuda berdiri di tepi sungai yang baru saja surut. Lumpur masih basah. Bau kayu patah dan air keruh menggantung seperti sisa kalimat yang tak selesai diucapkan.
Ia menemukan sepasang sandal kecil terbalik di tanah.
Tidak ada nama.
Tidak ada angka korban.
Tidak ada grafik kerugian.
Hanya sepasang sandal.
Ia memungutnya perlahan, seolah mengangkat sesuatu yang tak terlihat tetapi terasa berat. Malam itu ia pulang dengan dada yang tak lagi sama. Ia membaca puisi, bukan berita.
Dan ia memahami sesuatu yang tak pernah diajarkan laporan resmi:
statistik mencatat peristiwa, tetapi puisi menyimpan luka.
Di situlah Atas Nama Bencana berdiri.
Buku ini tidak ingin menjadi arsip data. Ia memilih menjadi ruang gema bagi suara yang tercecer setelah kamera pergi. Ia menyimpan getar yang tak masuk tabel.
–000–
Atas Nama Bencana menghimpun dua belas puisi esai dan lebih dari dua puluh lukisan drama yang merekam tragedi Sumatra 2025–2026.
Di dalamnya, manusia biasa berdiri di pusat pusaran.
Seorang ayah berjalan delapan puluh kilometer mencari keluarganya, melintasi jarak yang lebih jauh dari peta: jarak antara harapan dan kemungkinan terburuk.
Empat kampung di Aceh hilang seperti halaman kitab yang direnggut dari jilidnya. Sebuah bukit menjadi saksi yang runtuh bukan semata karena hujan, tetapi karena keserakahan yang lama disahkan di ruang rapat.
Seorang anak kehilangan ibu bukan oleh deras air, melainkan oleh bantuan yang terlambat. Para pengungsi mengenakan apa pun yang tersisa, dan martabat diuji di tengah pakaian seadanya.
Seorang guru berjalan seratus dua puluh kilometer membawa satu nama yang belum sempat dimakamkan.
Seorang ibu memeluk anaknya seperti pelukan bisa menjadi bendungan terakhir.
Tiga prajurit gugur dalam tugas kemanusiaan.
Seorang psikolog berkata: luka kali ini lebih berat dari tsunami 2004. Bukan karena airnya lebih tinggi, tetapi karena kecemasan datang berulang, seperti hujan yang tak pernah benar-benar reda.
Buku ini mengangkat satu kebenaran yang tak nyaman:
bencana bukan hanya langit yang murung. Ia juga hasil pilihan-pilihan manusia yang lama dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.
Deforestasi. Alih fungsi lahan.
Tata kelola sungai yang abai.
Pembangunan yang lupa akar.
Puisi-puisi ini menolak menyebutnya musibah semata. Ia menyebutnya cermin.
–000–
Dalam puisi ketiga, Bukit Itu Menangis Menimbun Satu Keluarga, terdapat bait yang menjadi pusat gravitasi buku:
“Tidak.
Ini bukan musibah.
Ini cermin raksasa.
Bukan hanya hujan yang turun malam itu,
tetapi kontrak-kontrak bisnis
yang dulu ditandatangani tergesa
jatuh satu per satu dari langit
sebagai batu dan batang mati.”
Di sini hujan kehilangan kepolosannya.
Ia berubah menjadi konsekuensi.
Tanda tangan menjelma longsor.
Angka-angka izin berubah menjadi tanah yang runtuh.
Bukit bukan antagonis. Ia korban.
Manusia bukan hanya korban. Ia juga sebab.
Puisi ini tidak berteriak. Ia hanya menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan kesunyian yang membuat dada terasa sempit. Ia menanam pertanyaan tanpa menjatuhkan vonis.
Di situlah kekuatan puisi esai bekerja.
–000–
Puisi esai, dalam tangan Denny JA, lahir dari peristiwa nyata tetapi bergerak melampaui berita. Ia membawa data, jarak tempuh, izin konsesi, bahkan catatan kaki.
Namun semua itu dilebur dalam dramatikasi yang menjaga denyut manusia tetap di pusat cerita.
Ia bukan sekadar liris.
Ia bukan sekadar dokumenter.
Ia adalah kesaksian.
Tahun 2026, Festival Puisi Esai ASEAN memasuki edisi kelima. Genre ini telah melintasi batas negara, menjadi ruang dialog Asia Tenggara tentang luka kolektif.
Pengakuan internasional melalui penghargaan BRICS 2025 untuk inovasi sastra bagi Denny JA menandai bahwa bentuk ini bukan eksperimen lokal, melainkan percakapan global tentang etika dan estetika.
Jika Seamus Heaney dalam Field Work menulis tanah Irlandia sebagai tubuh sejarah, dan Ada Limón dalam The Carrying menuliskan kecemasan iklim sebagai getar personal, maka Denny JA menghadirkan sebab dan akibat secara telanjang: jarak, korban, izin, dan keputusan.
Perbedaan mereka adalah pendekatan.
Kesamaannya adalah kesadaran: bumi menyimpan memori, dan manusia sering terlambat membacanya.
–000–
Atas Nama Bencana bukan hanya elegi.
Ia adalah arsip batin sebuah zaman.
Ia menyimpan air mata yang tak tercatat. Ia merekam rasa bersalah yang tak diakui. Ia menahan sejenak tangan yang terlalu cepat menggulir layar.
Di tengah dunia yang terburu lupa, buku ini memilih mengingat.
Karena mungkin yang paling menakutkan bukanlah hujan besar, melainkan kebiasaan menyebut kehancuran sebagai pembangunan.
Di antara angka korban dan peta kerusakan, buku ini memilih wajah-wajah yang tertinggal: relawan yang letih, proposal rehabilitasi yang dipangkas, warga yang perlahan belajar menyebut “kebijakan” sebagai nasib.
Dan puisi, dengan segala kelembutannya, berdiri sebagai satu bahasa yang masih berani mengatakan:
tanah yang dikhianati
akan berhenti memaafkan.
Sunyi itu panjang.
Dan di dalamnya, kita mendengar sesuatu yang lebih keras dari gemuruh air:
tanggung jawab.*
Jakarta, 28 Februari 2026
REFERENSI
1. Field Work — Seamus Heaney. Farrar, Straus and Giroux, 1979.
2. The Carrying — Ada Limón. Milkweed Editions, 2018.
Buku Puisi Esai Denny JA Atas Nama Bencana (2026) dapat dibaca, diupload, dan bebas disebarkan melalu link:
https://www.facebook.com/share/p/1ECGrA3eDf/?mibextid=wwXIfr ***