Penarikan Pasukan AS dari Al-Tanf: Dampak dan Implikasi Strategis

ORBITINDONESIA.COM – Penarikan pasukan Amerika Serikat dari pangkalan militer Al-Tanf di Suriah menandai babak baru dalam hubungan internasional dan stabilitas regional.

Penarikan ini terjadi setelah bertahun-tahun kehadiran militer AS di Al-Tanf, sebuah pangkalan strategis di perbatasan tiga negara: Suriah, Yordania, dan Irak. Pangkalan ini dibangun pada 2016 untuk memerangi ISIS dan melatih oposisi Suriah. Namun, kehadiran ini selalu diperdebatkan, dengan pemerintahan Suriah sebelumnya menganggapnya sebagai pendudukan ilegal.

Setelah jatuhnya pemerintahan Bashar Assad pada 2024, hubungan AS-Suriah membaik. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Presiden AS Donald Trump, menandai langkah baru dalam koalisi anti-ISIS. Penarikan ini juga mencerminkan pergeseran kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, fokus bergeser dari intervensi militer langsung ke diplomasi dan kerja sama regional.

Penarikan ini dapat dilihat sebagai kemenangan diplomasi atas kekuatan militer. Meski demikian, pertanyaan besar tetap: apakah pasukan Suriah yang menggantikan AS di Al-Tanf mampu menjaga stabilitas? Apakah ini sinyal AS menyerahkan lebih banyak peran kepada aktor regional dalam keamanan Timur Tengah?

Penarikan ini mengundang refleksi tentang peran AS di Timur Tengah dan masa depan Suriah pasca konflik. Dengan tantangan baru dan harapan akan perdamaian, akankah langkah ini membawa stabilitas atau justru memicu dinamika baru? Dunia menanti jawaban dari Suriah yang baru.