Pembangunan Gedung 40 Lantai di Eks Kedubes Inggris: MUI dan Kontroversi

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah kilau Bundaran HI, gedung bekas Kedutaan Besar Inggris berdiri diam, menanti takdir baru sebagai kantor MUI yang megah.

Jakarta, kota yang tak pernah tidur, kini diramaikan dengan rencana pembangunan gedung 40 lantai di lahan bekas Kedubes Inggris. Situs bergengsi ini akan diubah menjadi kantor pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Publik bertanya-tanya, mengapa MUI, yang telah memiliki kantor representatif, memerlukan gedung baru di pusat ibu kota?

Pembangunan ini tidak hanya soal lokasi strategis, tetapi juga mencerminkan pergeseran peran lembaga keagamaan dalam lanskap urban. Data menunjukkan, Jakarta terus bertumbuh dengan permintaan ruang perkantoran meningkat. Namun, proyek ini menuai kritik mengenai dampak lingkungan dan prioritas anggaran. Sebuah studi oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyebutkan bahwa penambahan gedung tinggi dapat memperparah kemacetan dan polusi udara di pusat kota.

Pembangunan gedung baru ini dapat dilihat sebagai simbol kekuatan dan pengaruh MUI dalam masyarakat Indonesia. Namun, apakah langkah ini mencerminkan kebutuhan yang nyata atau sekadar ambisi simbolik? Beberapa pihak menilai, dana tersebut lebih baik dialokasikan untuk program yang langsung menyentuh masyarakat, seperti pendidikan agama dan pemberdayaan ekonomi umat.

Pertanyaan yang tersisa adalah: Apakah pembangunan ini akan menjadi mercusuar yang membimbing umat atau justru menambah beban kota yang telah sesak? Masyarakat menantikan bagaimana proyek ini akan diwujudkan, dengan harapan bahwa keputusan yang diambil benar-benar untuk kemaslahatan bersama. Yang jelas, Jakarta akan terus berkembang, dan kita harus bijak menyikapi setiap perubahan yang datang.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Februari 2026)