Kegelisahan, Ketakutan, dan Kecemasan Manusia Modern

ORBITINDONESIA.COM - Ada kegelisahan yang perlahan menjadi normal dalam hidup manusia modern. Kegelisahan itu tidak selalu tampak sebagai ketakutan besar, tetapi hadir dalam bentuk kecemasan kecil yang terus berulang. Takut tidak cukup, takut tertinggal, takut kehilangan, takut hari esok tidak ramah.

Hati terus bekerja tanpa jeda, memikirkan kemungkinan terburuk, seolah hidup adalah medan ancaman yang harus diawasi setiap saat. Dalam kondisi seperti ini, manusia sering lupa bahwa rasa aman sejati tidak lahir dari apa yang dimiliki, melainkan dari siapa yang dipercaya oleh hatinya.

Secara psikologis, ketakutan berlebihan terhadap kemiskinan dan kekurangan membuat manusia hidup dalam mode bertahan, bukan bertumbuh. Secara sosial, kecemasan ini melahirkan persaingan yang dingin, kecurigaan yang halus, dan kecenderungan menumpuk demi rasa aman semu.

Secara spiritual, hati yang terus dikuasai rasa takut menunjukkan jarak yang semakin jauh dari ketundukan dan keyakinan. Ketika rasa khawatir menguasai batin, manusia tidak hanya kehilangan ketenangan, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk melihat rahmat yang sedang bekerja dalam hidupnya.

1. Ketakutan berlebihan adalah tanda hati kehilangan sandaran

Rasa takut yang wajar adalah bagian dari naluri manusia, namun ketika ia menjadi pusat kehidupan, itu menandakan hati telah kehilangan sandaran utamanya. Hati tidak lagi bersandar pada kebijaksanaan Tuhan, melainkan pada angka, status, dan kemungkinan. Dalam kondisi ini, manusia hidup seolah segalanya bergantung pada usahanya semata. Padahal, usaha yang tidak disertai kepercayaan hanya akan melahirkan kelelahan batin yang dalam.

2. Kekhawatiran terus-menerus menutup mata dari rahmat

Hati yang dipenuhi rasa khawatir sulit melihat kebaikan yang sedang hadir. Nikmat terasa biasa, cukup terasa kurang, dan anugerah terasa rapuh. Secara halus, kekhawatiran mengaburkan pandangan batin sehingga manusia lebih peka terhadap ancaman daripada kasih sayang. Di titik ini, hidup menjadi berat bukan karena kurangnya nikmat, tetapi karena hati tidak lagi mampu mengenalinya.

3. Takut miskin sering kali lebih menyiksa daripada kemiskinan itu sendiri

Banyak orang belum pernah benar-benar kekurangan, tetapi sudah tersiksa oleh ketakutan akan kekurangan. Rasa takut ini mencuri ketenangan hari ini demi kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Ia menguras energi, merusak syukur, dan menumbuhkan kecemasan yang berlapis. Kemiskinan yang ditakuti mungkin belum datang, tetapi kedamaian sudah lebih dulu pergi.

4. Hati yang jauh dari kepercayaan mudah dikuasai kecemasan

Kepercayaan kepada Tuhan bukan sekadar konsep, melainkan keadaan batin yang hidup. Ketika kepercayaan melemah, hati mencari pengganti dalam bentuk kontrol berlebihan. Manusia ingin memastikan segalanya aman menurut versinya sendiri. Namun semakin ia mencoba mengendalikan segalanya, semakin ia sadar bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan. Di sinilah kecemasan menemukan rumahnya.

5. Ketenangan lahir dari menyerahkan, bukan menguasai

Ada kelegaan mendalam ketika hati belajar menyerahkan. Bukan menyerah pada keadaan, tetapi menyerahkan hasil kepada kebijaksanaan yang lebih tinggi. Hati yang percaya tidak berarti pasif, tetapi bekerja dengan tenang dan menerima dengan lapang. Dalam penyerahan itulah, rasa takut perlahan mencair dan digantikan oleh keyakinan bahwa apa pun yang datang tidak pernah lepas dari perhatian Tuhan.

Jika rasa takut dan kekhawatiran terus memenuhi hatimu, pernahkah kau bertanya apakah yang sebenarnya sedang hilang dari hubunganmu dengan Tuhan?

(Sumber: Suluhsalik) ***