Farid Mustofa: Cahaya dan Jarak dalam Isra’ Mi’raj

Oleh Dr. Farid Mustofa, Dosen Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta

ORBITINDONESIA.COM - Pada suatu malam di tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad melakukan perjalanan yang luar biasa jauh. Beliau berangkat dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu naik ke langit. Semua terjadi dalam satu malam, pada tanggal 27 Rajab. Ketika beliau menceritakan pengalamannya kepada orang-orang Mekkah, banyak yang meragukannya.

Peristiwa Isra’ Mi’raj sering dijelaskan sebagai mukjizat, diceritakan dalam pengajian, dan dikaitkan dengan turunnya perintah salat. Sudah. Tapi sebenarnya kita bisa melihatnya dari sudut lain. Bukan untuk membuktikan apakah masuk akal atau tidak, bukan juga untuk menjadikannya soal ilmiah atau bukan, melainkan untuk memahami hal-hal yang jarang kita pikirkan.

Misalnya, bagaimana waktu bisa berjalan berbeda. Seberapa cepat sesuatu  bergerak. Apa sebenarnya cahaya itu. Cerita ini bisa jadi jalan  merenungkan batas kemampuan manusia dan bagaimana alam semesta bekerja.

Isra’ Mi’raj terbagi dua. Isra’  perjalanan Nabi dari Mekkah ke Yerusalem, dan  Mi’raj  perjalanan Nabi naik ke langit. Bagian pertama disebut  Al-Qur’an:

"Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surat Al-Isra’, ayat 1)

Perjalanan ini terjadi  satu malam. Menurut banyak riwayat, Nabi dibangunkan malaikat Jibril. Dadanya dibelah, dibersihkan dengan air zamzam. Lalu beliau dibawa menaiki Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai, lebih kecil dari bagal, dan bisa melaju sangat cepat.

“Aku dibawa oleh Buraq, seekor hewan putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Ia melangkah sejauh pandangannya.” (HR. Muslim No. 234)

Langkah Buraq yang sejauh mata memandang menunjukkan betapa cepatnya perjalanan itu.

Setelah sampai di Masjidil Aqsa, Nabi salat bersama para nabi terdahulu. Lalu perjalanan naik ke langit dimulai. Hadis-hadis sahih menyebutkan Nabi melewati tujuh lapisan langit dan bertemu Nabi Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Puncaknya pertemuan dengan Allah di Sidratul Muntaha. Di sanalah perintah salat lima waktu ditetapkan.

Kisah Isra’ Mi’raj tidak dijelaskan secara teknis. Tidak dijelaskan seperti apa bentuk langit yang dilewati, atau bagaimana tubuh Nabi bisa bertahan dalam perjalanan seperti itu. Beberapa orang menerima kisah ini apa adanya sebagai pengalaman spiritual. Tapi ada juga yang  mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan. Bukan untuk menolak keajaiban, tapi untuk melihat apakah cerita ini bisa dipahami dengan pendekatan waktu, kecepatan, dan ruang.

Dalam fisika modern, waktu tidak selalu berjalan sama. Teori relativitas  Einstein menyebutkan  waktu bisa terasa berbeda tergantung seberapa cepat seseorang bergerak. Semakin cepat, semakin lambat waktunya dibandingkan  orang yang diam. Konsep ini sering dijelaskan dengan contoh “paradoks kembar.”

Misalnya, ada dua saudara kembar. Yang satu pergi ke luar angkasa dengan kecepatan sangat tinggi, satunya  tetap di bumi. Setelah beberapa tahun, si astronot kembali ke bumi dan ternyata lebih muda dibanding saudaranya. Bukan karena tubuhnya awet muda, tapi karena waktu berjalan lebih lambat  selama ia  dalam kecepatan tinggi. Ini bukan cerita fiksi. Eksperimen dengan jam atom di luar angkasa memang menunjukkan  waktu bisa berjalan lebih lambat dalam kondisi tertentu.

Kalau pendekatan ini digunakan  melihat  Mi’raj,  waktu  Nabi memang bisa berbeda. Mungkin beliau melakukan perjalanan dalam  kecepatan  sangat tinggi, atau dalam keadaan  belum bisa dicapai manusia saat ini. Bisa saja waktu di bumi berjalan normal, tapi pengalaman di luar  berada dalam ruang  waktu yang lain.

Kehadiran Malaikat Jibril.  Dalam hadis riwayat Muslim malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, dan manusia dari tanah. Cahaya adalah  energi yang bisa kita lihat, seperti  matahari, lampu, atau api. Dalam sains, cahaya  bergerak tanpa perlu udara. Makanya cahaya matahari bisa sampai  bumi meskipun melalui ruang angkasa yang tidak ada udara.

Cahaya bergerak sangat cepat, sekitar 300 ribu kilometer per detik. Artinya, dalam satu detik saja, cahaya bisa mengelilingi bumi tujuh kali. Sampai sekarang, belum ada benda atau teknologi buatan manusia yang bisa menyamai kecepatan itu.

Karena kecepatannya luar biasa, cahaya punya sifat unik. Salah satunya  tidak mengalami waktu seperti kita. Dalam teori fisika, jika seseorang  bergerak secepat cahaya, waktu baginya  berhenti. Sementara kita yang diam, tetap merasakan waktu berjalan seperti biasa.

Memang sulit dibayangkan, karena tidak kita alami langsung. Tapi ini bukan fiksi. Ilmuwan sudah membuktikan bahwa semakin cepat sesuatu bergerak, semakin lambat waktu yang dialaminya. Eksperimen dengan jam di luar angkasa tadi menjadi contohnya.

Kalau mengingat Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad melakukan perjalanan sangat jauh dalam waktu  sangat singkat. Dengan pemahaman  cahaya dan waktu, ada kemungkinan itu terjadi dalam kondisi yang berbeda dari yang biasa kita alami. Bukan untuk memaksakan penjelasan logis, tapi untuk membuka pandangan bahwa ada hal-hal di alam ini yang belum sepenuhnya kita pahami.

Isra’ Mi’raj  bagian keimanan. Tapi kisah ini juga memberi ruang  berpikir tentang waktu, tentang batas kemampuan manusia, dan tentang hal-hal yang belum bisa dijelaskan sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan.

Maka tidak ada salahnya berusaha merenungkan mencari hikmah. Karena ternyata banyak hal di alam ini yang belum kita pahami maka kita perlu terus berendah hati. ***