Ketika Cinta Kasih Melampaui Batas Iman: Yayasan Buddha Tzu Chi Bangun 2.500 Hunian untuk Penyintas

Pagi itu, yang tersisa dari rumah Pak Rahman hanyalah lantai yang retak dan kenangan yang tertimbun lumpur. Banjir bandang datang tanpa aba-aba, menyapu dinding, perabot, bahkan rasa aman yang selama puluhan tahun ia bangun bersama keluarganya. Seperti ribuan warga lain di Sumatra, ia tak hanya kehilangan tempat berteduh, tetapi juga arah untuk melanjutkan hidup.

Di tengah keterpurukan itulah, harapan perlahan datang, bukan dalam bentuk janji, melainkan langkah nyata. Yayasan Buddha Tzu Chi menjadi salah satu yang hadir paling awal, membawa nilai cinta kasih universal yang selama ini menjadi napas gerak kemanusiaannya. Sebagai yayasan kemanusiaan internasional, Tzu Chi bekerja lintas iman dan latar belakang, berangkat dari keyakinan bahwa setiap kehidupan layak ditolong dengan hormat dan ketulusan.

Sejak hari-hari pertama bencana, relawan Tzu Chi telah hadir di lokasi terdampak. Mereka mendirikan dapur umum, membagikan makanan hangat, air bersih, serta kebutuhan dasar kepada warga yang masih berusaha berdamai dengan kehilangan. Bagi Pak Rahman dan ribuan penyintas lainnya, kehadiran relawan bukan sekadar bantuan fisik, melainkan pengingat sunyi bahwa mereka tidak sendirian menghadapi puing-puing kehidupan yang runtuh.

Namun bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, kepedulian tidak berhenti pada hari-hari darurat. Berbekal pengalaman panjang mendampingi masyarakat pascabencana besar, mulai dari tsunami Aceh hingga Palu, Tzu Chi melangkah lebih jauh ke tahapan pemulihan yang menyentuh keseluruhan kehidupan: menenteramkan raga, menenangkan hati, dan memulihkan masa depan. Komitmen inilah yang kemudian diwujudkan melalui rencana pembangunan 2.500 hunian tetap bagi warga yang rumahnya hilang, rusak berat, dan hanyut akibat banjir bandang serta longsor yang melanda Sumatra pada akhir November 2025.

“Dalam penanganan bencana, Tzu Chi selalu menjalankan program jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujar Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Harapannya sederhana namun mendalam: agar para penyintas dapat kembali hidup tenang dan bermartabat, terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri, ketika rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat pulang bagi harapan yang ingin tumbuh kembali.

Hunian-hunian ini akan dibangun di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sebagai ruang baru bagi warga untuk kembali menata hari dan menumbuhkan harapan. Di sanalah, di atas tanah yang pernah menyimpan duka, kehidupan perlahan akan menemukan pijaknya kembali, dimulai dari satu rumah, satu keluarga, dan satu keyakinan bahwa cinta kasih mampu membangun kembali apa yang sempat runtuh. 

"Ketika cinta kasih diwujudkan menjadi tindakan, luka tak lagi dibiarkan sendirian, dan kehidupan menemukan jalannya untuk kembali pulih."