Burnout di Dunia Kerja: Mengapa Kita Harus Bertindak Sekarang?

ORBITINDONESIA.COM – Burnout di tempat kerja bukan lagi sekadar keluhan; ini adalah krisis nyata yang merayap di balik meja-meja kerja kita. Setiap hari, banyak pekerja merasakan kelelahan dan kekosongan yang mengancam produktivitas dan kesehatan mental mereka.

Peningkatan burnout di tempat kerja tidak hanya terjadi di satu industri saja. Di India, budaya kerja tanpa henti dianggap sebagai standar emas. Laporan Edelweiss Life Insurance menunjukkan generasi sandwich hanya memiliki tiga jam waktu keluarga per hari. Burnout adalah masalah sistemik yang harus diatasi secara komprehensif.

Pandemi memperkenalkan kerja fleksibel, namun batas pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Beberapa perusahaan mulai menerapkan jam kolaborasi inti dan detoks digital. Namun, tindakan ini harus lebih dari sekadar kosmetik; mereka harus menjadi bagian dari transformasi budaya kerja yang lebih dalam.

Burnout sering kali tidak disadari hingga terlambat. Perusahaan perlu merombak metrik kinerja untuk fokus pada hasil, bukan jam kerja. Karyawan perlu merasa tujuan pribadi mereka selaras dengan pekerjaan mereka. Ini membutuhkan percakapan terbuka dan alat teknologi yang mendukung, bukan menggantikan, hubungan manusia.

Burnout adalah seruan untuk bertindak. Ini bukan hanya tentang membuat karyawan merasa lebih baik; ini tentang merancang ulang cara kita bekerja. Mampukah kita mengatasi tantangan ini dan memimpin dengan cara baru yang lebih manusiawi dan produktif?

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Desember 2025)