Wiwindasari: Menjadi Guru yang Peduli

Oleh Wiwindasari, S.Pd., Guru SMPN 1 Tukak Sadai

ORBITINDONESIA.COM - Konsep guru among yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara menggambarkan bahwa seorang guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga mendidik dan menjadi teladan bagi siswanya. Keteladanan yang diberikan haruslah berupa hal-hal baik yang dapat dicontoh, baik dalam sikap, perilaku, maupun etika.

Dalam keseharian di sekolah, setiap gerak-gerik dan tutur kata kita selalu diperhatikan oleh siswa. Di sinilah kesempatan bagi guru untuk menunjukkan sikap dan perilaku yang pantas diteladani—berbicara dengan bahasa yang santun, tidak berkata kasar, serta berperilaku sesuai norma.

Sebagai pendidik, kita juga harus menunjukkan kasih sayang dan perhatian layaknya orang tua kedua bagi siswa. Perhatian yang tulus membuat mereka merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah.

Selain itu, guru juga berperan sebagai pemberi semangat dan inspirasi, terutama bagi siswa yang menghadapi masalah keluarga atau pribadi. Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang hangat dan santai menjadi kunci. Guru dapat memulai percakapan ringan agar siswa merasa nyaman untuk bercerita. Setelah memahami permasalahan yang dihadapi, guru bisa memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan siswa tersebut.

Dukungan tidak selalu harus datang langsung dari guru. Kita juga dapat menggerakkan teman-teman sekelas untuk saling peduli dan memberi semangat kepada siswa yang membutuhkan. Dengan begitu, lingkungan kelas menjadi lebih empatik dan saling mendukung. Namun, guru tetap perlu memantau perkembangan dan memastikan dukungan tersebut berjalan dengan baik.

Menjadi guru berarti juga bekerja bersama banyak pihak. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan orang tua, rekan sejawat, dan seluruh warga sekolah sangat penting. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai permasalahan siswa dapat dibicarakan untuk menemukan solusi terbaik.

Bagi guru yang sekaligus menjadi orang tua di rumah, hal ini menjadi kelebihan tersendiri. Kita bisa memahami perilaku anak baik di rumah maupun di sekolah. Terkadang, perilaku anak di rumah berbeda dengan di sekolah. Ada kalanya siswa bersikap manipulatif sehingga menimbulkan salah paham antara guru dan orang tua.

Karena itu, sebagai orang tua, kita juga harus peka dan tidak sepenuhnya menyerahkan urusan anak kepada pihak sekolah. Kolaborasi dan komunikasi intensif antara guru dan orang tua mutlak diperlukan.

Lalu, sudahkah kita menjadi guru yang benar-benar peduli terhadap siswa kita? Atau jangan-jangan kita hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai pengajar?

Jadilah guru yang tulus peduli pada siswanya—bukan karena tuntutan, tetapi karena panggilan hati.***