Budaya 996: Antara Efisiensi dan Risiko Kesehatan Kerja
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja 996 yang berkembang di Tiongkok menantang batas ketahanan pekerja global, namun di Amerika Utara, hal ini dianggap tidak berkelanjutan.
Fenomena 996 mengacu pada praktik kerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu. Budaya ini muncul di Tiongkok sebagai bagian dari semangat kerja keras dan dedikasi dalam memajukan industri teknologi dan startup. Namun, di negara-negara Barat, model kerja ini memicu perdebatan mengenai keseimbangan kehidupan kerja dan kesehatan mental.
Di Tiongkok, 996 dianggap sebagai bagian dari strategi untuk bersaing di pasar global. Sementara itu, di Amerika Utara, perusahaan seperti Kinaxis berfokus pada kesejahteraan karyawan dengan menawarkan fasilitas kesehatan dan hiburan. Data menunjukkan bahwa burnout dapat meningkat dengan jam kerja yang panjang, dan banyak pekerja Barat merasa sulit untuk mempertahankan produktivitas tinggi dalam jangka panjang.
Budaya kerja yang berbeda mencerminkan nilai-nilai budaya yang berbeda pula. Di Tiongkok, dedikasi dan pengorbanan pribadi sering kali dihargai sebagai cara untuk mencapai keberhasilan kolektif. Sebaliknya, di Amerika Utara, keseimbangan kehidupan kerja lebih ditekankan demi menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan individu, terutama setelah pandemi COVID-19 yang meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan pribadi.
Menghadapi tantangan globalisasi, penting untuk menyeimbangkan antara efisiensi dan kesejahteraan pekerja. Apakah budaya kerja ekstrem seperti 996 akan menjadi norma baru, atau akankah pendekatan yang lebih seimbang memenangkan hati perusahaan dan pekerja? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan ini.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 November 2025)