Perdebatan Pekan Kerja 4,5 Hari di Korea Selatan: Antara Kesejahteraan dan Produktivitas
ORBITINDONESIA.COM – Di tengah gencarnya diskusi tentang pekan kerja 4,5 hari, Korea Selatan menghadapi dilema antara kesejahteraan karyawan dan produktivitas ekonomi. Kebijakan ini menjadi polemik di negeri dengan budaya kerja intens.
Di Korea Selatan, jam kerja yang panjang telah menjadi norma, menempatkan negara ini di peringkat ketujuh dalam daftar OECD. Namun, tekanan untuk mengurangi jam kerja semakin meningkat, didorong oleh kekhawatiran terhadap keseimbangan hidup dan penurunan tingkat kelahiran.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa pengurangan jam kerja dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan dan efisiensi organisasi. Misalnya, program uji coba di Severance Hospital berhasil menurunkan angka turnover staf secara signifikan. Namun, kekhawatiran akan penurunan produktivitas tetap ada, terutama di sektor manufaktur.
Dari sudut pandang bisnis, pengurangan jam kerja dapat meningkatkan biaya operasional. Namun, perusahaan besar seperti Samsung dan SK Group sudah mulai mengadopsi pendekatan fleksibel ini. Beberapa ahli menyarankan agar pengurangan jam kerja dimulai dari perusahaan besar dan secara bertahap diterapkan ke sektor lainnya.
Perubahan besar memerlukan adaptasi dari semua pihak, baik pemerintah, perusahaan, maupun pekerja. Apakah Korea Selatan siap mengubah paradigma kerjanya demi masa depan yang lebih sejahtera? Hanya waktu yang bisa menjawab.
(Orbit dari berbagai sumber, 4 November 2025)