Debat Kerja Ekstrem di Dunia Startup: Ambisi atau Risiko?
ORBITINDONESIA.COM – Pranav Mehta, seorang insinyur perangkat lunak dari Himachal Pradesh, memicu perdebatan sengit tentang budaya kerja ekstrem setelah mendukung minggu kerja 72 jam di perusahaan teknologi AS.
Pernyataan Pranav muncul setelah CEO Mercor, Brendan, mengumumkan pertumbuhan pendapatan perusahaan dari $1 menjadi $500 juta dalam 17 bulan, membanggakan sebagai perusahaan dengan pertumbuhan tercepat. Dalam konteks ini, Pranav menyebut kerja 72 jam menawarkan pertumbuhan dan pembelajaran yang tak tertandingi dibandingkan dengan minggu kerja standar 40 jam.
Pernyataan Pranav memicu reaksi beragam dari netizen. Kritik menganggap glorifikasi jam kerja ekstrem sebagai budaya kerja beracun, sementara pendukung melihatnya sebagai dedikasi dan peluang belajar. Fenomena ini mencerminkan ketegangan antara ambisi dan kesejahteraan dalam budaya startup, yang juga dipicu oleh kisah serupa dari pengusaha San Francisco, Neha Suresh.
Debat ini menyoroti dilema antara mengejar ambisi dan mempertahankan keseimbangan hidup. Pendukung budaya 'hustle' menganggap kerja keras sebagai kunci sukses awal karier, sementara kritik mengingatkan risiko kelelahan. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk menilai dampak jangka panjang dari normalisasi jadwal kerja ekstrem ini.
Saat diskusi tentang budaya kerja ekstrem terus berlanjut, penting bagi individu dan perusahaan untuk menimbang manfaat dan risiko. Apakah ambisi yang digembar-gemborkan ini benar-benar sepadan dengan biaya kesejahteraan pribadi? Pertanyaan ini tetap menjadi refleksi kritis bagi semua pelaku industri.
(Orbit dari berbagai sumber, 22 September 2025)