Friday, Apr 4, 2025
Kolom

Mengapa Ucapan Minal Aidzin Wal Faizin Jadi Lazim di Indonesia?

image
Amplop lebaran dengan desain depan mirip kartu anjungan tunai mandiri (ATM) dapat ditemukan di Jakarta, Minggu, 24 Maret 2024. (ANTARA/Abdu Faisal)

ORBITINDONESIA.COM - Ternyata ada cerita menarik di balik frasa Minal aidzin wal faizin yang menjadi ucapan selamat Lebaran paling mentradisi di Indonesia.

Uniknya, ucapan ini hampir selalu diiringi dengan “Mohon maaf lahir dan batin”, seolah keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Tapi, pernahkah terpikir, apakah makna sebenarnya dari Minal aidzin wal faizin? Mengapa di negara lain tidak ada kebiasaan yang sama? Dan bagaimana ucapan ini berevolusi menjadi bagian penting dari budaya Lebaran di Indonesia?

Baca Juga: Bank Indonesia Layani Penukaran Uang Baru Periode Ramadan - Idulfitri Mulai 3 Maret 2025

Dalam bahasa Arab, frasa ini sebenarnya tidak terlalu umum digunakan di negara-negara Timur Tengah. Asal-usulnya diyakini berasal dari ungkapan yang lebih panjang, yaitu Ja'alanallahu wa iyyakum minal 'aidin wal faizin, yang secara harfiah berarti “Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan menang.”

Ungkapan minal aidzin wal faizin memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Perang Badar, yaitu pertempuran antara umat Islam dan kaum Quraisy. Berdasarkan berbagai sumber, Idulfitri pertama kali dirayakan pada tahun 624 Masehi atau tahun kedua Hijriah, yang bertepatan dengan berakhirnya Perang Badar.

Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa ungkapan minal aidzin wal faizin berasal dari syair yang berkembang pada masa Al-Andalus (wilayah yang kini mencakup Spanyol dan Portugal). Syair ini dikatakan ditulis oleh Shafiyuddin Al-Huli.

Baca Juga: Kementerian Perhubungan dan Pelni Sediakan 800 Tiket Mudik Gratis Sampit-Semarang di Libur Idulfitri

Dalam kitab "Dawawin Asy-Syi’ri al-Arabi ala Marri Al-Ushur" (jilid 19, halaman 182), ungkapan tersebut disebutkan sebagai bagian dari nyanyian yang biasa dibawakan oleh para perempuan saat merayakan hari raya.

Maknanya memang sesuai dengan semangat Idulfitri, yaitu kembali kepada kesucian setelah sebulan berpuasa dan meraih kemenangan dalam menahan hawa nafsu. Namun, ketika diadopsi di Indonesia, frasa ini dipendekkan menjadi minal aidzin wal faizin dan seolah mengalami pergeseran makna.

Yang menarik, di Indonesia, ucapan ini hampir selalu diikuti dengan “Mohon maaf lahir dan batin.” Padahal, jika ditelusuri dari makna aslinya, keduanya tidak memiliki keterkaitan langsung.

Baca Juga: Pertamina Jamin Keandalan Pasokan Energi Jelang Mudik Lewat Satgas Ramadan - Idulfitri 2025

Justru di sinilah letak keunikan budaya bangsa ini. Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengaitkan Idul Fitri tidak hanya dengan kemenangan spiritual, tetapi juga dengan rekonsiliasi sosial. Lebaran menjadi momen yang sangat spesial karena tidak hanya menandai akhir dari bulan Ramadan, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitar kita.

Halaman:

Berita Terkait